Politisi Demokrat: Kalau Benar Ada Kecurangan Pemilu 2009 Seperti yang Hasto Tuduhkan, Tinggal Diselidiki

Terkini.id, Jakarta – Politisi Partai Demokrat menanggapi pernyataan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto yang menyinggung bahwa adanya dugaan kecurangan pada Pemilu 2009 yang dimenangkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Panca mengatakan bahwa jika memang ada kecurangan seperti yang dituduhkan oleh Hasto Kristiyanto, maka tinggal diselidiki saja.

“Hasto nga move on. Kalau benar ada kecurangan pemilu 2009 seperti yang dia tuduhkan, tinggal diselidiki,” katanya melalui akun Twitter @Panca66 pada Rabu, 27 Oktober 2021.

Baca Juga: Sentil KSAD Dudung, Politisi Demokrat: Baiknya Fokus ke OPM Daripada...

Pamca menilai bahwa penyelidikan itu akan muda dilakukan sebab partai yang berkuasa saat ini adalah PDIP.

Selain itu, ia menyinggung bahwa pada tahun 2004 saja ketika PDIP berkuasa, Partai Demokrat mampu memenangkan Pemilu. Apalagi 2009 keika posisi Demokrat adalah sebagai Petahana.

Baca Juga: DPP PDIP Keluarkan Instruksi Terkait Varian Baru Omicron: Yang Sudah...

“Apalagi 2009. Lagian calonnya ada pak JK, wapres, mana mungkin curang,” kata Panca.

Seblumnya, terjadi saling sindir antara politisi Demokrat dengan Hasto Kristiyanto terkait perbandingan kinerja SBY dan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Elite Partai Demokrat, Kamhar Lakumani mengatakan Hasto Kristiyanto hidup di alam mimpi saat era kepemimpinan SBY karena membandingkannya dengan kinerja Presiden Jokowi.

Baca Juga: DPP PDIP Keluarkan Instruksi Terkait Varian Baru Omicron: Yang Sudah...

Menanggapi itu, Hasto menilai bahwa perlu ada kajian akademis agar perbandingan kinerja antara SBY dan Jokowi menjadi objektif.

 

“Sebenarnya yang paling objektif kalau dilakukan kajian akademis, dengan menggunakan mixed method dari aspek kuantitatifnya bagaimana jumlah jembatan yang dibangun antara 10 tahun Pak SBY dengan Pak Jokowi saat ini saja,” katanya pada Sabtu, 23 Oktober 2021, dilansir dari Detik News.

Hasto menyinggung bahwa penelitian yang objektif itu dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah pelabuhan, jalan tol, lahan-lahan pertanian, bendungan-bendungan yang dibangun di masa SBY dan Jokowi.

Selanjutnya, ia mengatakan bahwa secara kualitatif, perbandingan Pemerintahan Jokowi dan SBY dapat dilihat dari kualitas penyelenggaraan Pemilu.

“Pada 2009 itu kan kecurangannya masif, dan ada tokoh-tokoh KPU yang direkrut masuk ke parpol hanya untuk memberikan dukungan elektoral bagi partai penguasa. Ada manipulasi DPT dan sebagainya,” katanya.

Bukan hanya itu, Hasto lantas menawarkan beasiswa kepada siapa pun yang bersedia mengkaji kinerja kepemimpinan SBY dengan Jokowi.

Kajian tersebut, kata Hasto, dibuat agar perbandingan kinerja dua presiden itu objektif dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

“Sehingga tidak menjadi rumor politik, tidak jadi isu politik, tapi berdasarkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan aspek objektivitasnya,” katanya.

Bagikan