Politisi Demokrat: Mesin Propaganda di Jaman Jokowi Ini Top Notch, Orde baru Ngga Ada Apa-apanya

Politisi Demokrat: Mesin Propaganda di Jaman Jokowi Ini Top Notch, Orde baru Ngga Ada Apa-apanya

R
R
Resty
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, JakartaPolitisi Demokrat, Ardi Wirdamulia menilai mesin propaganda di zaman Presiden Joko Widodo alias Jokowi ini sangat luar biasa.

Bahkan, menurut dia, mesin propaganda di era Jokowi ini mengalahkan eras orde baru atau orba.

“Saya harus akui mesin propaganda di jaman Jokowi ini top notch.  Orde baru ngga ada apa-apanya,” kata Ardi Wirdamulia melalui akuj Twitter @awemany, seperti dikutip pada Minggu, 31 Juli 2022. 

Ardi Wirdamulia mengatakan hal ini sebab menilai bahwa mesin propaganda di zaman Jokowi berhasil masuk ke pusat ketakutan pada golongan lain, bukan ke negara. 

“Dan ini membawa pada pembiaran negara untuk jadi fasis,” katanya.

Baca Juga

Ardi Wirdamulia melanjutkan bahwa setelah pertengahan 1970-an, kekejaman komunis orde baru cuma tinggal cerita. 

Ia menyebut, setelah itu tidak ada lagi teror-teror baru yang bisa diatribusikan ke gerakan komunis. 

“Ngga ada bagian masyarakat yang takut dan benci pada komunis seperti hari ini orang takut dan benci ama islam konservatif,” katanya.

Di zaman orde baru, lanjut Ardi Wirdamulia, musuhnya jelas adalah fasisme negara dengan instrumen preman dan organisasi masyarakat pemuda.  

“Jaman ini, negara dianggap sekutu untuk melawan hal yang menakutkan.  Ada 6 orang dibunuh oleh aparat tapi sebagian masyarakat malah tepuk tangan. Mau ngomong apa kita?” katanya.

Ardi Wirdamulia lalu menyinggung soal unggahan orang-orang di media sosial yang mengolok jilbab hingga membenci ulama.

Menurutnya, orang-orang ini bukan hanya orang bayaran, melainkan warga biasa yang otaknya telah dicuci.

“Kalau anda liat TL anda. Orang-orang yang postingannya olok-olok soal jilbab atau celana cingkrang itu ya bukan orang bayaran,” kata Ardi Wirdamulia.

“Yang bencinya ke HRS atau UAS sampai ke ubun-ubun itu ya ngga harus buzzeRp. Warga biasa. Yang otaknya sudah dicuci habis. Yang sumber informasinya memang sudah bias,” lanjutnya.

Masalahnya, kata Ardi Wirdamulia, orang-orang ini lebih takut dan benci kepada Islam konservatif daripada rezim yang dipenuhi dengan koruptor dan orang-orang tidak kompeten. 

Ia mencontohkan, DKI Jakarta telah maju di bawah kepemimpinan Anies Baswedan tapi tidak berpengaruh bagi orang-orang ini.

“Hanya karena dulu Anies didukung oleh Islam konservatif. Segitunya,” katanya.

Orang-orang seperti ini, lanjut Ardi Wirdamulia, akan tetap memilih capres yang dulu terindikasi mendapatkan duit suap. 

“Toh masih banyak justifikasi. Ngga pernah jadi tersangka kan? Itukan bisa-bisanya tertuduh di pengadilan aja. Semua pertimbangan kompetensi terlewati. Semata karena benci dan takut. Pada imajinasinya sih,” katanya.

Terakhir, Ardi Wirdamulia mengaku akan terus berusaha untuk menyeru pada akal sehat mereka. 

” Ketakutan klean itu hasil propaganda. Sadarlah. Kira-kira begitu. Apakah ada yang mendengar? Ngga tahu,” kata Ardi Wirdamulia.

“Akun ini udah banyak diblock dan dimute oleh kawan-kawan yang marah saat diingatkan. Tapi saya belum putus asa,” lanjutnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Presiden Jokowi belum menanggapi pernyataan Ardi Wirdamulia ini.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.