Sebut Pidato Kemenangan Anies Di-spin, Politisi Demokrat: Ini Orang-Orang Ngga Ada Takutnya Ya dengan Dosa Memfitnah?

Sebut Pidato Kemenangan Anies Di-spin, Politisi Demokrat: Ini Orang-Orang Ngga Ada Takutnya Ya dengan Dosa Memfitnah?

R
R
Resty
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, JakartaPolitisi Demokrat, Ardi Wirdamulia menilai bahwa pidato kemenangan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang menggunakan kata “pribumi” telah diputarbalikkan atau di-spin sedemikian rupa.

Ardi Wirdamulia pun menyindir apakah orang-orang yang memutarbalikkan perkataan Anies Baswedan ini tidak takut berdosa karena memfitnah.

Pasalnya, ia menilai bahwa istilah “pribumi” yang digunakan Anies Baswedan dalam pidato kemenangannya diucapkan dalam konteks penjajahan.

“Dalam pidato itu kata pribumi cuma diucapkan sekali. Itupun dalam konteks penjajahan. Lalu dispin seolah Anies bilang kemenangannya adalah kemenangan pribumi,” kata Ardi Wirdamulia.

“Ini orang-orang ngga ada takutnya ya dengan dosa memfitnah? Iya deh gue tahu, pada kebal hukum,” sambungnya, sebagaimana dilihat Terkini.id pada Sabtu, 30 April 2022.

Baca Juga

Adapun netizen yang ditanggapi Ardi Wirdamulia menyebut bahwa Anies Baswedan menyebut kemenangannya adalah kemenangan pribumi.

“Tapi di Pidato kemenangan, Anies menegaskan ‘Kemenangan ini adalah kemenangan PRIBUMI’,” kata netizen itu.

Sebagaimana diketahui, pidato perdana Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta yang mencantumkan kata-kata “pribumi” memang menjadi kontroversi pada 2017 lalu.

Adapun pernyataan Anies yang membuat heboh berbunyi “Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami”.

Dilansir dari Detik News, kalimat di atas adalah bunyi teks pidato yang dipegang oleh Anies Baswedan.

Namun, pernyataan yang disampaikan langsung Anies agak berbeda, ada sedikit penambahan kata-kata menjadi berbunyi “Dan Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat. Selama ratusan tahun,, di tempat lain penjajahan mungkin terasa jauh. Tapi di Jakarta, bagi orang Jakarta kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari. Karena itu, bila kita merdeka, janji-janji harus dilunaskan. Dulu kita semua, pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan dalam pepatah Madura.”

Terkait pidato tersebut, Anies Baswedan telah meluruskan konteks dalam pernyataannya terkait “pribumi”.

“Itu pada konteks pada era penjajahan. Karena saya menulisnya juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan,” kata Anies pada Senin, 17 Oktober 2017.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.