Pria Asal Sulawesi Selatan Akui Telah Lakukan Vaskinasi Covid – 19 Sebanyak 16 Kali, Apa Dampaknya?

Terkini.id, Jakarta – Seorang warga dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Abdul Rahim mengaku telah 16 kali disuntik atau menerima 16 dosis vaksin Covid-19.

Dalam video viral di media social, pria berusia 49 tahun itu mengaku berperan sebagai joki vaksinasi dengan alasan ekonomi.

Disuntik vaksin Covid-19, Abdul Rahim mengaku dua di antaranya merupakan vaksinasi wajib untuk dirinya sendiri, sementara sisanya untuk orang-orang yang sudah membayarnya. Dia juga mengaku bahwa dirinya mendapatkan dua jenis vaksin yang berbeda, yaitu Sinovac dan Astrazeneca

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Buku Vaksinasi Covid-19, Airlangga: Isinya Mencakup Inovasi Menghadapi...

Abdul Rahim yang merupakan seorang kuli bangunan itu menjelaskan menerima bayaran RP 100-800 ribu untuk setiap suntikan yang diterimanya.

Dilansir dari laman Solopos.com Senin 3 Januari 2022, selain mengaku disuntik vaksin 16 kali, Abdul juga mengaku bahwa dirinya sudah 3 bulan menjalankan aksinya ini. Padahal, setiap jenis vaksin memiliki jeda waktu yang berbeda untuk penyuntikan dosis kedua. Misalnya pada Sinovac, interval pemberian antar dosis adalah 28 hari, sedangkan Astrazeneca adalah 12 pekan.

Baca Juga: Observasi di Pinrang, Mahasiswa KMP UNM Latih Warga Buat Sirup...

Totalnya, dia menyebut ada 14 orang yang pernah digantikannya menjalani vaksinasi Covid-19.

Dilansir dari laman Tempo.com Senin 3 Januari 2022, Dokter spesialis patologi klinis dari Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto, menekankan bahwa apa yang viral tentang Abdul Rahim tersebut baru sebatas pengakuan.

Menurut Tonang, perlu data yang lebih valid untuk membahas kemungkinan-kemungkinan bagaimana Abdul bisa melakukan itu.

Baca Juga: Observasi di Pinrang, Mahasiswa KMP UNM Latih Warga Buat Sirup...

Dikutip dari laman Tempo.com Senin 3 Januari 2022, “ mengingat dalam proses vaksinasi, ada tahapan screening data maupun kondisi pasien,” ujar dia saat dihubungi Rabu pagi, 22 Desember 2021.

Dilansir dari laman Solopos.com Senin 3 Januari 2022, Tapi seandainya benar terjadi, apa dampaknya? Menurutnya, dalam laporan-laporan ilmiah, belum ada yang membahas bagaimana bila terjadi pemberian vaksinasi melebihi dosis. Dari uji klinis, yang dicari adalah dosis optimal yaitu dosis yang mampu memicu antibodi, tetapi sekaligus dengan risiko efek samping dan efek simpang yang minimal.

Secara teori, dosis yang semakin tinggi, semakin kuat memicu respons antibodi, tapi juga semakin tinggi risiko terjadi efek tidak diinginkan. Maka dalam uji klinis, sudah didahului oleh uji pra-klinis di hewan. Jika sudah diketahui rentang dosis yang masih aman, baru kemudian diujikan pada manusia. Selanjutnya dalam tahap uji klinis 1, diuji dulu hasil dari hewan tadi, untuk mencari dosis yang optimal dari dasar uji pada hewan (dan tentu saja pengetahuan sebelumnya tentang obat dan vaksin sejenis).

“Sisi yang penting dalam hal penyelenggaran vaksinasi, proses skrinning harus dijalankan benar-benar agar risiko terjadi duplikasi menjadi minimal. Sisi masyarakat, apapun yang namanya obat, menjadi berisiko bila berlebihan. Sudah ada takarannya, sudah diuji klinis, mari dijalani dengan baik,” tambahnya.

Bagikan