Program UPSA Piloaita BPDASHL Bone Bolango, Salah Satunya Tanam Pohon di Hari Bahagia

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id, Gorontalo-Usaha Pengelolaan Sumberdaya Alam (UPSA) merupakan Usaha Tani Konservasi pada sebidang lahan kering yang dipergunakan sebagai tempat untuk memperagakan teknik-teknik konservasi tanah dan air yang antara lain pembuatan teras dan saluran pembuangan air serta intensifikasi usaha tani yang baik dengan memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan yang bersangkutan.

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhasil setidaknya bertumpuh pada dua pilar utama: inovasi penerapan tekhnologi yang sesuai dan inovasi partisipatori dari berbagai pihak terkait. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolango sangat penting diperhatikan untuk dipulihkan menjadi DAS yang memiliki kinerja baik. Lahan kritis, erosi, sedimentasi, dan besarnya limpasan permukaan masih menunjukkan tingkat yang mengkhawatirkan. Pengelolaan lahan yang tidak bijaksana sering menjadi penyebab meluasnya lahan kritis, terjadi erosi, banjir dan kekeringan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Dirjen PDASHL telah memprogramkan peningkatan upaya rehabilitasi hutan dan lahan secara komprehensif untuk mempercepat penanganan kondisi DAS Bolango melalui Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan.

Program ini meliputi upaya rehabilitasi hutan dan lahan dengan melaksanakan metode konservasi tanah dan air dengan kegiatan sipil teknis, vegetatif, dan agronomi, berupa kegiatan pembuatan teras dan saluran pembuangan air serta penanaman pohon. Penyelenggaraan program ini dilakukan dengan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat.

BPDASHL Bone Bolango sebagai pelaksana program melibatkan masyarakat terutama Kelompok Tani Piloaita dengan melibatkan tenaga pendamping dari BPDASHL Bone Bolango dan penyuluh lapangan serta pengawas lain yang ditunjuk.

Menarik untuk Anda:

Lokasi Usaha Pengelolaan Sumberdaya Alam (UPSA) berada di Dusun Piloaita Desa Dulamayo Utara Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo ini dapat ditempuh dari pusat kota Limboto ke Piloaita sekitar 30 menit dengan kondisi jalanan beraspal yang relatif masih baik, dan diujung jalan berjalan kaki sedikit sekitar 300 meter sudah sampai lokasi.

“Awalnya lokasi Piloaita memiliki lahan pertanian pasca panen, lahan tidur sebagai contoh: pertanian lahan kering, lahan kosong seluas 25 Ha dengan jenis komoditi yang ditanam oleh masyarakat petani antara lain: Kemiri, Mahoni, Gamal, Cengkih, dan Jagung. Piloaita memiliki Curah Hujan rata-rata per tahun 970,45 mm dengan Suhu Udara 31˚C dengan ketinggian tempat 688 meter dpl, dengan topografi bergelombang dengan pemandangan alam yang indah nan mempesona,” jelas Bakri.

Kepala Seksi Program DASHL pada BPDASHL Bone Bolango, Bakri Nongko mengatakan, masyarakat sekitar lokasi adalah masyarakat agraris yang bersifat dinamis dan sebagian besar telah lama mendiami lokasi, sehingga telah cukup akrab dengan hal bercocok tanam serta memiliki kesadaran yang cukup tinggi pentingnya reboisasi yang akan berdampak baik kini dan masa datang.

“BPDASHL Bone Bolango melalui program ini menyediakan berbagai jenis bibit, yaitu; jenis pohon kayu-kayuan (Mahoni) dan jenis pohon buah-buahan (MPTS), yaitu: Rambutan, Durian, Pala, Cengkih dan Kayu Manis serta tanaman tumpang sari yaitu: Kopi, Bawang Merah, Jahe Merah, Jahe, Kunyit, Sereh Wangi, dan Jagung. Jumlah bibit pohon yang diperlukan adalah 400 batang pohon per hektar, dengan cara pembukaan lahan menggunakan alat-alat sederhana (manual) yang dikerjakan bersama anggota kelompok,” ungkap Bakri.

Ia menambahkan, teknis kegiatan penanaman dan pemeliharaan ini dilakukan secara garis besar meliputi teknis konservasi tanah dan air yang tepat untuk mengurangi tingkat erosi dan menjaga lingkungan tanah dengan kegiatan pembuatan bangunan konservasi tanah dan air meliputi kegiatan pembuatan teras dan pembuatan saluran pembuangan untuk menampung sisa air permukaan yang tidak meresap ke dalam tanah.

Menurut Kepala BPDASHL Bone Bolango Provinsi Gorontalo M Tahir, P.SP., M.Si, melalui program dan kegiatan UPSA Piloaita dengan pengelolaan yang terintegrasi ini diharapkan mampu menyediakan satu alternatif untuk pola pemanfaatan lahan yang sekaligus berfungsi untuk konservasi yang melindungi tanah dan air dari erosi dan resiko banjir, melindungi lebih banyak keanekaragaman, dan menyediakan suatu sumber yang dapat membangkitkan penghasilan masyarakat baik dari tanaman semusim maupun tanaman hasil hutan bukan kayu (hasil pohon buah-buahan).

“Dan pemanfaatan jasa lingkungan lainnya sehingga pelestarian dan fungsi lingkungan hidup dari hulu ke hilir tetap dapat terjaga dengan baik, dengan tetap meningkatkan nilai tambah perekonomian masyarakat, khususnya anggota Kelompok Tani Piloaita,” ujarnya.

M. Tahir menguraikan, secara luas bagi masyarakat Gorontalo dapat mendapatkan bibit secara gratis jenis pohon kayu-kayuan dan jenis pohon buah-buahan di persemaian permanen untuk ditanam dilahannya masing-masing.

“Salah satunya menanam pohon di hari bahagia,“ imbuhnya singkat.

Lebih lanjut M. Tahir menerangkan, Pembinaan yang terus-menerus dilakukan oleh pihak BPDASHL Bone Bolango bersama pendamping yang handal Jemi Monoarfah yang didukung oleh Kepala Desa Dulamayo Utara, Camat Telaga Biru dan Bupati Kabupaten Gorontalo secara perlahan telah mampu merubah pola pikir masyarakat sekitar terutama kepada anggota Kelompok Tani Piloaita dalam melakukan kegiatan pertanian dan perkebunan yang konservatif dan ramah lingkungan dalam meningkatkan perekonomian setempat.

“Salah satu pembinaan yang paling sering dilakukan oleh M. Bakri Nongko yang juga Kepala Seksi Program DASHL pada BPDASHL Bone Bolango adalah pentingnya kegiatan aksi nyata menanam pohon serta merawatnya, dan kalau bisa dilakukan juga pada hari-hari bahagia tertentu atau terkait acara adat yang minimal menanam dua batang pohon, misalnya; pas hari menikah, acara tujuh bulanan kehamilan, lahiran anak, sunatan anak, acara pembeatan anak, hari ulang tahun, dan hari bahagia lainnya dan kelak pohon itu memiliki nilai sejarah, bernilai konservasi, dan bernilai ekonomi sekaligus bernilai kenangan.

Kepala BPDASHL Bone Bolango Provinsi Gorontalo M Tahir kembali menjabarkan, jangan nanti terjadi bencana banjir dan longsor baru kita ingat pentingnya keberadaan pohon. Hal ini jika dilakukan dengan konsisten dan walaupun hanya menanam dua batang pohon per orang pada hari-hari bahagia itu, tapi kali banyak orang yang menikah, tujuh bulanan, lahiran, sunatan/pembeatan dalam sebulan bisa dikalkulasi jumlahnya dan dalam setahun ribuan pohon yang bisa tertanam dan terawat sehingga ada nilai tambah dari hari-hari bahagia itu, dan jika hal ini bisa didukung dengan regulasi oleh pemerintah desa atau pun pemerintah daerah, termasuk dari ketua-ketua adat akan sangat bagus dan secara tidak lansung dapat berkontribusi positif dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan di Provinsi Gorontalo, dan terlebih khusus di Dulamayo Utara.

Sementara menurut Jemi Monoarfah, kesadaran dan kepedulian anggota Kelompok Tani Piloaita akan hal tersebut, membuat pasangan pengantin Nur Afni dan suaminya Harto Ibrahim Bonggi tidak melewatkan hari bahagianya di Piloaita begitu saja. Sabtu 4 Juli 2020 melansungkan akad nikah;

“Hari ini kututup masa lajangku dan kumulai hari bahagiaku dengan menanam dua pohon yang kuberi nama pohon Cinta dan Bahagia yang kelak pohon ini akan memberi manfaat buat keluarga kami, lingkungan hidup dan kehutanan, inshaa Allah berkah,” doa kedua mempelai.

Jemi Monoarfah yang juga pendamping Kelompok Tani Piloaita ini, pembinaan yang selama ini telah dilakukan kepada kami, khususnya oleh Bakri Nongko, memang agak beda dari biasanya dan luar biasa, karena selalu disertai dengan motivasi dengan buah pikiran cerdas, mudah masuk logika, mudah dilaksanakan, dan dari hal kecil tapi berdampak positif besar terutama terkait dengan kehidupan sehari-hari yang bisa berkontribusi dalam pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan, dan ide cerdasnya bisa di implementasikan di daerah lain.

“Kebetulan Bakri Nongko juga diundang oleh pihak keluarga dan kedua mempelai pengantin, beliau sempatkan diri hadir dan tidak disangka-sangka beliau bawakan salah satu kado khusus untuk kedua mempelai pengantin adalah bibit tanaman buah-buahan yakni pohon Matoa dan Nangka dan lansung diserahkan kepada kedua mempelai dan disaksikan oleh pihak keluarga dan lansung ditanam oleh kedua mempelai,” sebut Jemi.

“Kami sebenarnya sudah siapkan bibit pohon untuk kami tanam, namun karena ada kado bibit pohon istimewa dibawakan pak Bakri Nongko jadinya kami tanam empat batang pohon hari ini, Alhamdulillah,“ kata Afni, mempelai perempuan.

Kegiatan UPSA Piloaita dan praktek cerdas seperti diatas diharapkan bisa menjadi inspirasi sekaligus motivasi untuk kita tetap menjaga kelestarian dan fungsi lingkungan hidup untuk generasi kini dan akan datang. Salam Lestari

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Prof Ambo Asse Dilantik Sebagai Rektor Unismuh, NA Makassar Doakan yang Terbaik

Ini Akibat Bermain Jari di Medsos, Terciduk di Batas Kota

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar