Reporter TV Afghanistan Dipecat, Khadija Amin: Taliban adalah Taliban, Mereka tidak berubah!

Reporter TV Afghanistan Dipecat, Khadija Amin: Taliban adalah Taliban, Mereka tidak berubah!

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Kabul – Reporter TV Afghanistan dipecat, Khadija Amin: Taliban adalah Taliban, mereka tidak berubah! Salah seorang reporter dan pembaca berita di stasiun televisi pemerintah Afghanistan, Khadija Amin tidak kuasa menahan air matanya. Ia sangat sedih lantaran mengaku dipecat Taliban.

Dalam wawancara di Clubhouse, Khadija bercerita ia dan sejumlah karyawan wanita lainnya diberhentikan Taliban dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

“Saya seorang jurnalis, dan saya tidak boleh bekerja,” ungkap Khadija Amin, seperti dikutip The New York Times, Selasa 17 Agustus 2021.

Ia menambahkan, tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Menurutnya, generasi berikutnya tidak akan memiliki apa-apa.

“Semua yang telah kita capai selama 20 tahun akan hilang. Taliban adalah Taliban. Mereka tidak berubah,” tegas Khadija Amin.

Pengakuan Khadija Amin sendiri sangat bertolak belakang dengan propaganda Taliban yang terus menampilkan wajah lebih moderat dan merangkul wanita setelah mengambil alih Istana Kepresidenan pada Minggu 15 Agustus 2021 lalu.

Salah satu upaya itu adalah dengan menampilkan Bahesta Raghan, pembawa acara wanita dari TOLO News, untuk mewawancarai pejabat Taliban, Mawlawi Abdulhaq Hemad pada Selasa 17 Agustus 2021 pagi, untuk yang pertama kalinya sejak mereka menduduki Ibu Kota Kabul.

Dalam wawancara itu, Raghan menanyakan soal ketakutan warga jika Taliban kembali berkuasa.

“Saya masih heran, orang-orang takut kepada Taliban,” kata Hemad.

Aksi Hemad menjawab pertanyaan jurnalis wanita itu dianggap sebagai bagian dari kampanye Taliban guna menghadirkan wajah yang lebih moderat kepada dunia internasional.

Selain itu, wawancara tersebut dianggap berguna dalam membantu mengurangi ketakutan yang mencengkeram Afghanistan sejak Taliban merebut Kabul pekan lalu.

Siaran yang ditayangkan TOLO News merupakan pertama kalinya seorang wanita Afghanistan mewawancarai pejabat Taliban.

“Kami bilang ke mereka, lihat, seorang wanita akan mewawancarai mereka,” timpal pendiri TOLO News, Saad Mohseni, seperti dilansir The Guardian.

Ia juga berkata, “Mereka bilang baik-baik saja. Mereka bisa dengan mudah mengatakan persetan dengan (ketakutan) Anda (terhadap Taliban). Mereka menjalankan negara. Mereka bisa melakukan apapun yang diinginkan.”

Tepat di hari Kabul jatuh ke tangan Taliban, TOLO News memulangkan reporter wanita karena khawatir akan keselamatan mereka. Namun, menurut Mohseni, dua hari kemudian banyak yang bekerja kembali dan reportase ke lapangan.

Menurut Mohseni, Taliban harus memanfaatkan media untuk menarik simpati dunia, terutama negara-negara Barat.

“Penting bagi mereka untuk memenangkan hati dan pikiran, dan menunjukkan kepada internasional mereka sah, dan mereka adalah orang-orang yang dapat bekerja sama dengan Anda,” jelas Mohesni.

Ia juga mengatakan, dalam fase ini media akan memiliki lebih banyak kebebasan dibandingkan pada  fase terakhir berkuasa.

Akan tetapi, Mohseni memprediksi Taliban akan tetap membatasi media agar tidak mengkritik pemerintahan mereka nantinya.

“Mereka akan berada di pemerintahan untuk sementara waktu. Apa yang terjadi jika Anda mulai mengkritik? Anda dapat menayangkan apapun yang Anda inginkan selama itu tidak mengkritik pemerintah,” imbuhnya.

Kendati demikian, kehadiran media di Afghanistan tetap dinilai sebagai kemajuan. Saat Taliban berkuasa sebelumnya, mereka melarang warga menonton televisi, menggunakan internet, bahkan mendengarkan musik.

Mereka hanya menyuguhkan satu stasiun radio keagamaan. Afghanistan juga tidak punya jaringan telepon seluler komersial.

Kini setelah 20 tahun kemudian, negara ini dibanjiri ponsel yang digunakan untuk merekam peristiwa dan menyebar berita dengan mudah ke seluruh negeri serta dunia. Para pejuang Taliban bahkan kerap menghabiskan waktu bertukar materi di WhatsApp (WA).

Perkembangan terkini telah memaksa Taliban melakukan pendekatan baru terhadap media. Mereka dianggap sadar betul pengaruh media dalam pengakuan terhadap pemerintahan.

Dalam beberapa hari terakhir, juru bicara Taliban juga telah diwawancarai secara langsung presenter wanita di BBC News dan Sky News.

“Ini adalah ancaman bagi kami. Kami berasumsi, telah kehilangan bisnis. Apapun yang lebih baik ketimbang penutupan total adalah kemenangan bagi kami. Namun, kami sudah tahu aturan mainnya sebelum kami masuk ke dalamnya. Ini Afghanistan, wilayah yang sulit,” demikian juru bicara Taliban itu mengungkap.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.