Masuk

Soal Isu Penundaan Pemilu, Rizal Ramli: Ternyata Biang Kudeta Konstitusi Ini Luhut Panjaitan

Komentar

Terkini.id, Jakarta- Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menceritakan operasi politik Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) untuk kudeta konstitusi agar terjadi penundaan pemilu

Rizal Ramli mengatakan, mulanya kudeta militer umumnya terjadi di dunia pada dekade 1970, sedangkan kudeta konstitusi pada dekade 1980. Hal tersebut diungkapkannya dalam acara Adu Perspektif dalam kanal Youtube detikcom, Rabu 27 April 2022. 

“Nah ternyata biangnya kudeta konstitusi ini temannya Panda (Nababan) sama teman saya, Bang Luhut Pandjaitan. Nah, saya tahu cara kerja Luhut Pandjaitan, selalu cari orang bermasalah untuk dibikin bagian dari operasi itu,” ungkap Rizal Ramli. 

Baca Juga: Politisi Demokrat Singgung Keberadaan Buzzer: Power of Reason Tergusur oleh Power of Money

“Istilah dia sama saya, dia pernah ngomong sama saya, ‘Zal lu itu politiknya hitam-putih, kita itu perlu politik supaya kita, orang bermasalah kita pasangin tali di hidungnya kayak kerbau, supaya bisa diperintahkan kiri kanan’,” sambungnya. 

Rizal Ramli pun menceritakan usaha yang dilakukan Luhut agar mantan Ketua DPR RI Setya Novanto menjadi Ketua Umum Golkar. 

“Inilah modus operasi daripada temannya Luhut Pandjaitan waktu itu dia ngotot agar supaya Jokowi pilih (Setya) Novanto jadi Ketua Umum Golkar. Kalau saya masih dalam (Istana), biasanya Jokowi nanya sama saya, ‘Mas Rizal ini gimana ini?’. Saya bilang, ‘Jangan, Mas, Novanto itu banyak masalah, nanti kita sibuk ngurusin limbahnya saja’,” tegas Rizal.

Baca Juga: Sindir Keputusan MK Soal Menteri Nyapres, Rizal Ramli: Tidak Tahu Malu

Rizal pun mengaku sempat diminta Luhut untuk melobi Jokowi agar mendukung Novanto menjadi Ketua Umum Golkar saat itu. Namun, Rizal menolak permintaan tersebut. 

“Akhirnya Bang Luhut ngajak saya makan siang, ‘Zal, lu bantuin dong, karena Jokowi pasti nanya sama lu nih soal begini’, ‘Bantuin apa?’, ‘Lu bantu dong lobi Jokowi supaya dukung Novanto sebagai Ketua Umum Golkar’. Saya bilang ‘Gue kagak mau’, dia bilang, ‘Lu Zal, politik lu hitam-putih, kita itu perlu orang bermasalah supaya kaya kerbau, dipegang hidungnya’,” cerita Rizal. 

‘Bang jangan samain gue sama lu’, ‘Kenape?’, ‘Emang lu otaknye kagak bener kok, beda sama kita’,” tegas Rizal. 

Selanjutnya, Rizal pun menceritakan operasi politik Luhut yang menyinggung tiga ketua umum partai. 

Baca Juga: Luhut Pandjaitan Tak Minat jadi Cawapres Anies Baswedan

“Nah, operasi politik itu menggunakan orang-orang bermasalah secara hukum, yaitu pasien rawat luar dari KPK. Namanya Muhaimin Iskandar, Zul (Zulkifli Hasan), namanya Airlangga Hartarto, tiga-tiganya punya masalah hukum. Jadi mereka gampang diarahkan supaya dukung kudeta konstitusi ini,” sebut Rizal.

Rizal pun mengatakan, dirinya sempat meminta kepada Luhut untuk mengakui aktor utama operasi politik penundaan pemilu adalah dirinya. Namun, Luhut tidak berani mengaku soal operasi tersebut. 

“Ternyata kemudian kan, pada tekan publik, reaksi publik luar biasa, akhirnya pada ngaku, yang nyuruh itu teman kita Bang Luhut. Nah tapi Bang Luhut nggak berani, harusnya kan gentlemen dong, katanya gagah berani, ya ngakulah memang aku otaknya gitu, malah ngeles,” imbuhnya.