Seandainya KH Ahmad Dahlan Masih Ada, Saya Kira Ia Akan Pilih…

SECARA organisasi, Muhammadiyah sudah menyatakan diri netral dalam Pilpres kali ini. Meski warganya terbelah. Sebagian mendukung Jokowi-Ma’ruf. Sebagian lain mendukung Prabowo Sandi. Perbedaan itu kadang terasa tajam dan panas. Tak jarang dibumbui perisakan di aneka WAG atau akun media sosial. Di tengah tarik menarik ini, imajinasi saya tergelitik: Jika Kiai Dahlan masih hidup, siapa kira-kira yang akan ia pilih?

KH Ahmad Dahlan, sepanjang yang saya pahami dan pelajari, adalah sosok ulama intelektual yang progresif. Ia menafsir agama melampaui dogma yang bersifat tekstual saja. Di tangan Kiai Dahlan, ajaran agama bertransformasi menjadi perilaku, menjadi akhlak, bahkan menjadi gerakan yang memberikan sumbangsih nyata bagi peradaban.

Tafsir Kiai Dahlan tentang teologi al-Ma’un, misalnya, mendobrak sekat-sekat tembok pengajian. Spirit al-Ma’un kemudian bersalin rupa menjadi Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang hari ini menjadi ribuan rumah sakit dan klinik di bawah PKU, menjelma ribuan sekolah dan universitas, menjadi lembaga-lembaga berdimensi sosial keagamaan dengan dampak yang nyata dan signifikan. Mulai dari Lazismu sampai TVMu.

Kalau hari ini Muhammadiyah lekat dengan ‘tagline’ Islam berkemajuan. Tentu itu bukan keren-kerenan belaka. Bukan slogan saja. Islam yang berorientasi ke depan, yang optimistis dan visioner, yang mengubah kesalehan ritual menjadi kesalehan sosial, yang mentransformasikan ajaran agama menjadi ‘amal usaha’ yang nyata… Adalah ciri dan karakter utama Muhammadiyah—baik sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah, maupun gerakan tajdid (pembaruan).

Pemurnian (purifikasi) ajaran Islam yang dibawa Muhammadiyah, bukan sekadar kembali pada teks Quran dan hadits. Tidak berhenti di wilayah perdebatan tarjih. Tetapi harus sekaligus menjelma menjadi ‘tajdid’, pembaruan. Bagaimana pemahaman itu diletakkan dalam arus perubahan zaman. Di antara tarik-menarik itulah Muhammadiyah menemukan bentuknya yang moderat: Sebagai gerakan dengan karakter ‘wasath’ (tengah).

Hari ini, jika Kiai Dahlan masih ada, ia akan sedih melihat warga Muhammadiyah yang mencoba menarik-narik pendulum moderasi Muhammadiyah ke arah kanan. Apapun dalihnya. Muhammadiyah yang hanya berbicara iman atau kufur, halal atau haram, dan beragam perdebatan hukum lainnya—termasuk dalam bab fiqhus-siyasah—yang berhenti pada perdebatan ‘mana yang musuh Islam atau bukan?’ tanpa analisis dan elaborasi yang memadai.

Warga Muhammadiyah yang kini terbelah gara-gara urusan capres-cawapres, sampai berani ‘menghukumi’ atau melabeli dan membuli pihak tertentu dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas, bahkan membawa-bawanya ke ranah iman, pasti membuat Kiai Dahlan sedih. Apalagi jika diskusi itu secara tak adil berhenti di wilayah preferensi saja, seraya melupakan mana yang benar-benar sanggup mengikuti spirit Kiai Dahlan yang mengimplementasikan visi menjadi aksi… dan mana yang tidak sama sekali.

Dalam konteks pilpres, Muhammadiyah tentu bukan simbol dan nama belaka. Muhammadiyah adalah spirit untuk maju dan bekerja. Ia tak mungkin berhenti pada wilayah yang sifatnya struktural dan artifisial saja. Contohnya, kunjungan salah satu cawapres ke PDM Muhammadiyah, lalu secara rombongan melakukan ziarah kubur dan berdoa secara massal di depan makam Kiai Dahlan, sama sekali tak mencerminkan Muhammadiyah seperti diajarkan Kiai Dahlan. Kalaupun itu dipaksakan, tentu tak bisa dianggap ‘ajaran Muhammadiyah’ tetapi ‘political stunt’ saja. Dan itu sah-sah saja.

Di momen pilpres kali ini, jika Kiai Dahlan masih ada, saya kira menarik untuk ditanyakan ia akan memilih siapa? Muhammadiyah tentu akan tetap netral. Tapi sebagai pribadi, Sang Kiai tentu punya preferensi.

Melihat karakternya yang visioner, optimistis, percaya pada progress dan kemajuan, mengimplementasikan visi menjadi kerja dan prestasi, tak berhenti di wilayah dogma belaka. Saya kira Kiai Dahlan akan memilih… Ah, saya tak berani menyimpulkan. Takut kualat! Hehehe.

Tapi, kalau saya ditanya sebagai pribadi, dan kalau pilihan itu disodorkan pada saya… Saya sih akan pilih Jokowi saja. 😁😊🙏

Tabik!

FAHD PAHDEPIE — Pengagum KH Ahmad Dahlan

Berita Terkait
Komentar
Terkini