Sebab Kita Semua adalah Garuda

Jokowi
Pertemuan Jokowi-Prabowo berlangsung di MRT Jakarta beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa)

HARI ini kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Setelah semua kontestasi yang membuat bangsa ini terpolarisasi. Setelah hiruk pikuk perdebatan bahkan caci maki di media sosial atau televisi.

Setelah berbagai intrik politik yang menyedot energi bangsa ini. Setelah drama panjang cebong dan kampret. Kita menyaksikan sebuah akhir yang indah.

Hari ini dua negarawan berjumpa. Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Mereka melebur segala ego dan bertemu untuk bersama menjahit kembali apa-apa yang terlanjur koyak.

Mereka ingin memberi pesan sekaligus contoh kepada para pendukungnya, kita semua, masyarakat Indonesia: Bahwa demokrasi menyediakan ruang kompetisi sekaligus kolaborasi.

Bahwa persaingan bukan untuk saling meniadakan. Bahwa semangat untuk berbuat baik bagi negeri ini tidak bisa dibangun di atas rasa kebencian dan permusuhan.

Hari ini mereka bertemu sebagai dua sahabat, sebagai dua saudara, sebagai dua teladan bagi bangsa. Pilpres sudah usai. Hasilnya telah ditetapkan, final dan mengikat.

Tidak ada lagi pendukung 01 dan 02. Jangan ada lagi cebong atau kampret. Ini saatnya bergandengan tangan, bekerja bersama, mewujudkan cita-cita sebagai bangsa dan negara. Ini saatnya menjadi 03, persatuan Indonesia.

“Banyak orang bertanya, mengapa saya belum mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi.” Ujar Pak Prabowo sambil tersenyum, para wartawan dan tokoh yang menyaksikan pun mendadak riuh, nuansa kebahagiaan segera menyeruak, “Sebenarnya ada ewuh pakewuh. Saya tahu tata krama. Saya ingin mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi secara langsung.” Sambung Pak Prabowo.

Pak Jokowi tersipu. Ia menatap Pak Prabowo yang juga kini memutar tubuhnya untuk menatap ke arah Pak Jokowi, “Selamat, Pak.” Ujarnya sambil menjabat tangan. “Selamat mengemban tugas dan amanah sebagai presiden Republik Indonesia. Selamat berambut putih. Ini amanah dan pengabdian. Saya siap membantu bila dibutuhkan.” Mereka pun saling melempar senyuman, bertukar pelukan.

Hari ini, lewat pertemuan bersejarah ini, kita melihat masa depan. Kita melihat harapan dan hal-hal baik negeri ini bisa kita wujudkan bersama-sama—meski tak akan mudah, tak akan sederhana.

Pertemuan itu dilakukan di atas kereta cepat MRT Jakarta. Sebuah simbol yang kuat tentang progresi dan akselerasi. Tentang impian melesatkan Indonesia ke masa depan. Tentang komitmen bersama mewujudkan Indonesia maju.

“Bisa saja kami bertemu di tempat lain.” Ujar Pak Jokowi ketika ditanya mengapa harus bertemu di atas MRT. “Bisa saja pertemuan dilakukan di rumah Pak Prabowo, atau di istana. Tapi saya tahu Pak Prabowo belum sempat naik MRT, makanya saya ajak naik MRT. Kami putuskan bertemu di sini.” Mendengar ucapan Pak Jokowi itu, Pak Prabowo mengangguk-angguk sambil terus tersenyum.

Benar kalimat itu tampak sederhana. Tetapi bisa kita rasakan ada ketulusan dan nuansa persahabatan yang begitu kuat di sana. Indonesia hanya bisa maju jika kita bersatu di frekuensi semacam ini, jika kita berhasil mengalahkan rasa ingin menang sendiri, mengubur semua benci, melesat ke masa depan.

Maka di manapun kita hari ini, dari Aceh hingga Papua, yang semula 01 dan 02, yang sebelumnya pendukung Pak Jokowi atau Pak Prabowo… Kini kita tak boleh terpecah dan terbelah lagi. Kita kemasi semua sisa pertarungan. Kita buka halaman baru. Kita songsong masa depan gemilang negeri ini… bersama-sama sebagai saudara.

“Hari ini tak ada lagi 01 dan 02. Tak ada lagi cebong atau kampret.” Ujar Pak Jokowi pada penutup pidatonya, “Yang ada adalah Garuda Pancasila.”

“Hari ini jangan ada lagi cebong atau kampret.” Ujar Pak Prabowo dalam penutup pidatonya. “Sebab kita sama-sama merah-putih!”

Hari ini langit negeri begitu cerah. Angin lembut menerpa wajah kita. Pertemuan dua negarawan ini menggetarkan hati kita semua. Kini, saatnya kita berdiri di barisan yang sama. Membentangkan sayap. Bersiap melesat ke masa depan… Sebab kita adalah anak-anak garuda!

Jakarta, 13 Juli 2019

FAHD PAHDEPIE

Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden RI. Kedeputian V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM Strategis.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka
Opini

Memaknai Kemerdekaan Bukan Sekedar Simbolik

TUJUH belas Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep Indonesia.Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi di
Opini

Aktivis Repotlusioner

SEJARAH gerakan mahasiswa secara heroik menggambarkan kecerdasan dan militansi perjuangan mahasiswa dalam menciptakan gerakan massa dengan tujuan memperbaiki kebobrokan tatanan yang ada di Indonesia.Bagi
Opini

Mengapa Pemadaman Listrik Begitu Lama?

DI mana-mana terjadi mati listrik. Di Amerika, Eropa apalagi Indonesia. Penyebabnya yang berbeda.Persoalannya: Seberapa sering.Seberapa luas.Seberapa lama.Ada kalanya sering mati lampu. Itu karena produksi
Opini

Mensegerakan Revisi PP No. 44 Tahun 2015

KEHADIRAN program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan terus memberikan manfaat bagi pekerja kita. Khusus untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan
Opini

Aspal Buton sebagai Aspal Berongga

Buku hasil adaptasi dari disertasi penulis  yang diselesaikan pada program studi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin pada tahun 2018 lalu.Buku ini menganalisis pengaruh penambahan bahan
Opini

Titanium Megawati

"Tulis dong soal pidato Bu Mega di Bali"."Tidak mau"."Menarik lho pak. Apalagi kalau DI's Way yang menulis"."Politik. Sensitif," balas saya."Soal Sengon 1 Triliun itu
Opini

Cara BUMN Tiongkok Berkembang

PADA tahun 2015, pemerintah China melakukan reformasi radikal terhadap BUMN. Dari total 117 BUMN, disusutkan menjadi 98 BUMN saja. Dampaknya bukan hanya pengurangan jumlah BUMN