Terkini.id, Makassar – Beberapa mahasiswa tersenyum, sebagian lainnya penasaran terus mencoba. Tampaknya semua ini gara-gara “ulah kreatif” dokter, sekaligus dosen, dari FK Unismuh Makassar. Siapa lagi kalau bukan dr Dito Anurogo MSc.
Di akhir sesi tentang Teknik Literasi, penulis puluhan buku itu mengajarkan senam jari di depan delapan puluhan mahasiswa anggota LKIM-PENA. Menurutnya, senam jari berpotensi menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri. Tentu tidak seketika atau instan. Perlu proses lama.
“Keren! Senam jari bisa memotivasi para peserta,” ungkap Irianti, salah satu moderator acara.
Senam jari itu hanyalah bagian kecil dari rangkaian kegiatan Indoor Diklat Ilmiah XIII Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (LKIM-PENA) Unismuh Makassar periode 2018-2019, yang diselenggarakan di Aula Perpustakaan Umum Multimedia pada tanggal 11-14 Februari 2019.
Teknik Literasi
Selain senam jari, selama sekitar dua jam, dokter Dito Anurogo menjelaskan tentang teknik literasi yang amat fundamental, seperti: dunia ide, strategi mengatasi macet ide, dosa besar penulis pemula, dan berbagai ranjau kepenulisan.
Diselingi pemutaran beberapa video inspiratif dan humor kreatif, suasana terasa cair dan menyenangkan.
Berbicara tentang dunia ide, pria kelahiran Semarang dan penulis puluhan buku ini memaparkan secara detail tentang beragam sumber ide, sumber inspirasi, stimulator (pemicu) ide, sifat atau karakteristik ide, sistematisasi ide, rahasia selalu banjir ide, perbedaan antara kreatif dan kreativitas, serta jurus rahasia menjadi pribadi kreatif.
Pria hobiis filateli-numismatik dan peraih puluhan penghargaan nasional-internasional ini mengemukakan beberapa konsep kepenulisan berdasarkan konsep ide, yakni: religious writing, genious writing, dan creative writing.
Ranjau-ranjau Kepenulisan
Dokter literasi digital yang humoris sekaligus organisatoris ini juga memaparkan secara komprehensif tentang 17 ranjau kepenulisan, meliputi: accident, argumentum ad populum, argumentum ad misericordiam, argumentum ad baculum, argumentum ad hominem, argumentum ad verecundiam, ignoratio elenchi, argumentum ad ignorantiam, post-hoc ergo propter hoc, petitio principii, straw man fallacy, bandwagon, fallacy of dramatic instance, reifikasi, slippery slope, fallacies of ambiguity, dan kesesatan metaforis.
Contoh paling menarik adalah argumentum ad hominem, di mana seseorang menyerang pribadi atau karakter seseorang, alih-alih memberikan bukti atau mencari kebenaran. Contohnya ada pada kalimat berikut ini. Skripsinya sangat dangkal, karena saya tahu dia seorang pembohong.
Dosa Besar Penulis Pemula
Director Networking IMA Chapter Makassar sekaligus penulis buku best seller “The Art of Medicine” (Gramedia, 2016) ini juga menjelaskan beberapa “Dosa Besar Penulis Pemula”.
Contohnya, kata dr Dito, malas riset, malas membaca, malas mencatat, enggan berdiskusi, enggan bertanya, enggan berbagi ilmu, merasa dirinya penulis terhebat sepanjang masa, merasa tulisannya sudah sempurna, merasa tidak mood, merasa rendah diri dan tidak seberuntung orang lain, mudah bosan, mudah puas, mudah menyerah, melupakan (Allah, jatidiri, keluarga, dsb), plagiarisme ide, meremehkan ide kecil, meremehkan EYD/PUEBI, tidak fokus (semua hal ditulis), tidak peka, tidak peduli, tidak punya outline jelas saat menulis, dan sebagainya.
Selaku Ketua Panitia Diklat Ilmiah XIII, Didin Ferdiansyah menjelaskan bahwa kegiatan ini bertema “Intelektualisasi Generasi Muda yang Berintegritas dan Kompetitif untuk mewujudkan penelitian berkualitas”.
Selain senam jari, dokter Dito menayangkan tiga video inspiratif sehingga antusiasme hadirin semakin meningkat. Materi ini diakhiri dengan diskusi interaktif dan foto bersama. Benar-benar kegiatan literasi yang mencerahkan.
Citizen Reporter: Nur Sandi Marsuni (Mahasiswa Unismuh Makassar, demisioner LKIM-PENA)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.



