Shaifuddin Bahrum Pembuka Sekat dengan Etnis Tionghoa

Almarhum Shaifuddin Baharum
Almarhum Shaifuddin Baharum

Saya baru saja duduk di Kantor KONI Sulawesi Selatan, Rabu 22 Januari 2020. Sekitar pukul 16.30 Wita, saat membaca cuitan rekan se-angkatan di Fakultas Sastra Unhas, Willy F.Taneh di WA.

“Turut berduka cita atas berpulangnya Bpk Shaifuddin Bahrum. Semoga jiwanya beristirahat dengan damai di dalam kerahman dan belas kasih Tuhan,” tulis Willy yang kini bermukim di Surabaya.

Cuitan di media sosial pun mulai ramai. Aswad Syam pun menulis :Tugasmu sudah usai Kak Shaifuddin Bahrum….wahai jiwa yang tenang..menghadaplah kepada Rabb-mu..”.

Lalu adik Ana Mustamin juga menulis tentang langkahnya mengontak RS Dhramis Jakarta yang dipimpin Prof.Dr.dr.Abd. Kadir untuk memastikan kepergian almarhum.

Burhanuddin Tamaela juga menungkapkan kenangan singkatnya, “6 November 2019 di Aula Prof.Mattulada, Shaifuddin Bahrum hadir dalam diskusi proses penciptaan karyanya “Ati Raja” yang sudah difilmkan.

Baca juga:

Pria yang bernaung di bawah zodiak Libra (sama dengan bintang saya yang asli) ini berbeda lebih 11 tahun dengan saya masuk di Fakultas Sastra.

Setamat SMA Negeri 3 Makassar (1983), almarhum masuk Fakultas Sastra Unhas dan tamat tahun 1991. Dia membutuhkan waktu lama menuntas pendidikan sarjana karena kesibukannya di bidang kesenian dan kebudayaan.

Lelaki kelahiran Sidrap 11 Oktober 1963 ini, termasuk sosok yang sangat menyejukkan. Komunikasi dan interaksi saya dengan dia selalu dalam balutan yang harmonis dan menyenangkan.

Tutur katanya lembut, menampakkan sosoknya yang tenang. Dia menyapa saya dengan “Kak”. Ya, jelas, beda usia saya dengan almarhum 10 tahun lebih 8 hari.

Saya sudah lupa, apakah dia juga ada ketika saya berdiri di depan kelasnya di Fakultas Sastra Unhas saat mengajar “Jurnalisme Sastra” dan “Penulisan Kreatif”.

 Tetapi rasa-rasanya tidak. Sebab pada saat dia menjadi mahasiswa di almamater, saya sedang “gila-gila”-nya lenyap dari kampus sebagai seorang jurnalis di Harian Pedoman Rakyat.

Pada rentang waktu dia kuliah, merupakan dasawarsa saya merajalela memenuhi tugas jurnalistik yang dititahkan redaktur harian yang kemudian (2007) almarhum pun bergabung sebagai redaktur budaya.

Di Fakultas Sastra, pada era dia mahasiswa, terbentuk kelompok teater dan juga kelompok musik yang bernama SPASI. Di dalam dirinya mengalir darah seni dan tak heran dia kerap menulis artikel sastra.

Namun dia lebih suka menulis cerita pendek (cerpen), puisi, naskah drama, sekaligus menjadi sutradara. Tulisan sastranya pernah dimuat di Harian “Pedoman Rakyat” dan harian “Fajar” Makassar.

Pernah juga dia menulis roman sejarah. Dalam kapasitasnya yang terakhir ini, satu karyanya “Ati Raja”, sudah difilmkan. Dia bertindak sebagai asisten sutradara di film yang bernuansa etnis Tionghoa, bidang yang memang menjadi perhatiannya.

Sekali waktu, saya lupa entah edisi ke berapa Majalah INTI (Indonesia Tionghoa) Sulawesi Selatan yang menempatkan saya sebagai satu-satunya wartawan dengan posisi redaktur pelaksana majalah itu, almarhum saya minta menyumbangkan satu tulisan.

Dalam komunikasi telepon saya sampaikan, “tulisan apa pun sepanjang berkaitan dengan etnis Tionghoa Makassar, Dinda-lah orang yang tepat menulisnya”.

“Siap, Kak,” jawabnya pendek yang membuat hati saya berbunga-bunga.

Maka, tidak heran, buku-buku karyanya bertutur tentang Tionghoa Makassar. Lantaran mengasuh majalah etnis tersebut, saya pun keranjingan mengoleksi sejumlah buku yang berkaitan dengan bidang minat almarhum. Termasuk salah satu karyanya juga menghiasi jejeran buku dengan “genre” yang sama.

Udhin, begitu dia akrab disapa, termasuk sosok yang berhasil membuka sekat yang begitu rapat di kalangan etnis Tionghoa. Tentu saja ini seiring dengan bergulirnya era reformasi dan berakhirnya kekuasaan pemerintah Orde Baru pada tahun 1998.

Dia berhasil masuk ke komunitas etnis Tionghoa yang boleh dikatakan masih sangat tertutup pada masa itu di Sulsel. Ia membuka pintu pertemanan dengan Giok, salah satu pemusik andalan etnis Tionghoa saat itu.

Keaktifannya menulis masalah Tionghoa, membuat Udhin memperoleh tempat yang cukup terhormat di kalangan saudara kita tersebut. Dia terus menggali unsur budaya Tionghoa masa lalu. Untuk di Sulawesi Selatan, Udhin saya kira termasuk pakar masalah Tionghoa dan dia sangat “concern” dengan minatnya.

Perhatiannya itu relevan dengan latar belakang gelar Magister Antropologi yang digaetnya di Unhas pada tahun 2005. Bahkan mungkin daya tariknya pada masalah Tionghoa itulah yang menggodanya melanjutkan pendidikan pascasarjana tersebut. Dia kemudian dipercaya sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Bulanan Pecinan Terkini, 2008-sekarang.

Dari media daring saya memperoleh data, Udhin menyelesaikan pendidikan dasar pada SD Muhammadiyah Mamajang Makassar (1977),

SMP Negeri I Makassar (1981), SMA Negeri 3 Makassar (1983), Tamat pendidikan S1, Fakultas Sastra Unhas (1991), dan S-2 Program Studi Antropologi Unhas (2005).

Sejatinya, orang seperti almarhum mendapat tempat sebagai pengajar di almamaternya. Namun dia hanya berstatus sebagai Dosen Luar Biasa Fakultas Sastra Unhas Tahun 1990 sampai 1998. Juga mengajar Mata kuliah Bahasa Indonesia dan Kajian Sastra pada beberapa perguruan tinggi swasta di Makassar.

Dia juga aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai tenaga sukarela 1988-1992 dan mendirikan Yayasan Budaya Baruga Nusantara.

Udhin juga tercatat sebagai tenaga peneliti seni dan budaya mandiri (sukarela) pada Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), Jakarta, 1997 hingga akhir hayatnya.

Sebelum pindah dan berdomisili di Jakarta, Udhin tercatat sebagai staf peneliti pada Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian (PKP) UNHAS (sampai tahun 2003). Staf peneliti lepas pada Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisi Makassar.

Kolaborasi terakhir saya dengan almarhum terjadi saat menulis buku obituari Asdar Muis RMS, seniman yang lahir di Kabupaten Pangkep, 13 Agustus 1963 dan meninggal di Makassar, 27 Oktober 2014.

Udhin meminta mengedit beberapa tulisan, di samping juga saya menyiapkan testimoni. Pak Syahrul Yasin Limpo yang ketika itu menjabat Gubernur Sulsel, duduk di pinggir panggung dengan kaki menjulur turun, berorasi tanpa teks, mengungkapkan kesedihannya atas kehilangan Asdar, saat buku yang dieditori Udhin diluncurkan di Gedung MULO Jlalan Jenderal Sudirman Makassar.

Komentar

Rekomendasi

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Vaksin Lebaran

Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Memaafkan dan Dimaafkan

Keluarga Dokter

Abdul Qadir Jailani, Tarekat Cinta

AGH Muh Harisah Pecinta Ilmu

Hasan al-Bashri, Mengharap Cinta

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar