Masuk

Singgung Kasus Ferdy Sambo, Habib Bahar: Itu Makar dari Allah

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Pendakwah kontroversial, Habib Bahar bin Smith ikut mengomentari soal kasus pembunuhan Brigadir J yang menyeret Ferdy Sambo sebagai tersangka.

Menurut Habib Bahar, kasus Ferdy Sambo merupakan makar dari Allah. Ia pun mengaitkan hal itu dengan kasus KM 50 yang menewaskan 6 laskar Front Pembela Islam.

“Kasus yang sekarang di ungkap, yaitu kasus Ferdy Sambo yang telah di tahan. Makarollah! Itu adalah makar dari Allah. Mereka berusaha menutup-nutupi KM 50, Allah balas. Persis CCTV mati. Konferensi pers polisi, isinya bohong semua!,” ujar Habib Bahar bin Smith.

Baca Juga: Viral! Wanita Ini Ngaku Ingin Jadi Istri Ferdy Sambo: Love You Pak

Hal itu diungkapkan Habib Bahar lewat video yang tayang di kanal YouTube tvOneNews, seperti dikutip dari Hops.id, Minggu 11 September 2022.

Menurut Habib Bahar, sejak awal sebelum terungkapnya kasus Sambo ini dirinya sudah yakin betul bahwa banyak kebohongan pada konferensi pers polisi tentang KM 50.

“Dan semua percaya dengan konferensi pers polisi tentang KM 50, sedangkan konferensi pers tentang Brigadir J yang meninggal, itu isinya bohong, semua terungkap ketika Bharada E mengakuinya. Oleh karenanya sekali lagi saya bilang, kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, dan saya tetap pada prinsip saya, saya akan selalu menyampaikan kebenaran, saya tidak bersalah, karena yang saya sampaikan itu benar adanya, 6 laskar dibantai, disiksa dengan biadab!,” tegasnya.

Baca Juga: Orang Tua Bharada E: Pak Sambo Harus Bertanggung Jawab, Jangan Dikorbankan Anak Saya

Seperti diketahui, kasus terbunuhnya Brigadir Yoshua Hutabarat yang melibatkan mantan Perwira Polisi Fredy Sambo dan sang istri Putri Candrawathi masih bergulir dan sulit terpecahkan.

Pasalnya, keterangan yang terlontar dari para tersangka termasuk Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi selalu berubah-ubah.

Belum lagi dengan keterlibatan Ferdy Sambo dalam kasus KM 50 dimana kala itu mantan Kadiv Propam Polri tersebut ikut menangani kasus yang menewaskan 6 laskar FPI.

Hingga akhirnya, kasus KM 50 itu kembali dibuka atas desakkan anggota DPR dan elemen masyarakat.