Singgung Pendakwah Khalid Basalamah, NU: Gagasan Purifikasi Islam Harus Dilawan
Komentar

Singgung Pendakwah Khalid Basalamah, NU: Gagasan Purifikasi Islam Harus Dilawan

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Wakil Katib Syuriyah Nahdlatul Ulama (NU) DKI Jakarta, Kiai Taufik Damas menyinggung sosok pendakwah kondang Ustaz Khalid Basalamah.

Lewat cuitannya di Twitter, Minggu 27 Juni 2021, Kiai NU ini mengungkapkan penilaiannya terhadap sosok Khalid Basalamah.

Awalnya, Taufik Damas mengomentari sebuah link artikel pemberitaan berjudul ‘Di Mako Paspamres Ustadz Khalid Basalamah Sampaikan Soal Halal’.

Taufik pun mengaku bahwa ada pihak yang memintanya untuk mengomentari artikel pemberitaan itu.

“Ada yang minta saya mengomentari ini. Baiklah…,” cuit Taufik Damas menyertakan link artikel pemberitaan terkait Ustaz Khalid Basalamah itu.

DPRD Kota Makassar 2023
Baca Juga

Ia pun mengomentari artikel itu dengan menilai bahwa seharusnya umat harus mengetahui terlebih dulu siapa sosok Khalid Basalamah.

Selain itu, kata Taufik, juga harus diketahui apa aliran keagamaan yang dianut Ustaz Khalid. Sebab, umat tidak boleh menolak seseorang hanya lantaran tidak menyukai orang tersebut.

“Menurut saya, kita harus tahu dulu siapa Ustadz Khalid Basalamah. Apa aliran keagamaannya. Kita tidak boleh menolak orang atas dasar tidak suka atau benci,” ujar Kiai Taufik.

Ia pun mengungkapkan bahwa Khalid Basalamah merupakan ustaz Salafi-Hijazi dimana prinsip aliran itu adalah melakukan purifikasi Islam.

Akan tetapi, lanjut Taufik, ustaz Salafi-Hijazi tidak anti terhadap pemerintah. Bahkan, menurut pandangan mereka nyinyir terhadap pemerintah merupakan perbuatan haram.

“Khalid ini termasuk ustadz Salafi-Hijazi: prinsipnya adalah melakukan purifikasi Islam, tapi mereka tidak anti terhadap pemerintah. Jangankan menentang, nyinyir terhadap pemerintah saja haram menurut pandangan Salafi-Hijazi ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Taufik Damas mengungkapkan bahwa pemikiran ustaz Salafi-Hijazi sangat berbeda dengan Salafi-Haraki yang memiliki cita-cita politik dengan prinsip menegakkan Nizham Islami.

“Salafi-Hijazi ini beda dengan Salafi-Haraki yang memiliki cita-cita politik dengan prinsip menegakkan nizham islami. Kalau soal membid’ahkan amalan tahlilan, Maulid Nabi, dll, itu memang bagian dari prinsip purifikasi Islam yang mereka anut,” jelasnya.

Taufik pun menilai bahwa Khalid Basalamah yang merupakan ustaz Salafi-Hijazi tidak cocok dengan NU meskipun mereka juga tidak anti terhadap pemerintah.

“Mereka tidak cocok dengan NU, tapi mereka tidak anti pemerintah. Mirip para ulama di Saudi. Kalau Mako Brimob mengundang orang seperti dia, ya biasa aja. Kita (NU) harus adil. Kita beda, tapi jangan karena beda kemudian harus mengecamnya,” tutur Taufik Damas.

Adapun terkait gagasan purifikasi Islam, Kiai Taufik menilai prinsip Salafi-Hijazi tersebut harus dilawan dengan argumentasi yang baik dan benar sesuai dengan ajaran NU.

“Gagasan purifikasi Islam itu harus dilawan dengan argumentasi yang baik dan benar. Bukan memusuhi orangnya, tapi kita luruskan cara berpikirnya. Itu prinsip adil dan toleransi yang diajarkan di dalam NU,” ujarnya.