Soal Hepatitis Akut, Pakar Epidemiologi Unhas Minta Masyarakat Jangan Panik

Soal Hepatitis Akut, Pakar Epidemiologi Unhas Minta Masyarakat Jangan Panik

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Pakar Epidemiologi Unhas, Prof Ridwan Amiruddin meminta masyarakat tak panik dalam merespons kasus tiga pasien anak di Indonesia yang diduga terjangkit hepatitis akut meninggal setelah mendapatkan perawatan khusus di ruang ICU. 

Justru disiplin diri dalam menjaga kebersihan yang harus diutamakan, sehingga penularan tidak dapat terjadi.

Kementerian Kesehatan RI juga telah mengeluarkan surat edaran nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya. 

Hingga, 9 Mei 2022, Kemenkes mencatat total empat kasus pending hepatitis. Artinya, pemerintah belum bisa mengkonfirmasi kepastian penyebab yang bersangkutan, tetapi diduga kuat berkaitan hepatitis.

“Yang perlu diperhatikan tetap disiplin pada kebersihan diri, jaga cara atau pola makan. Hepatitis ini cenderung menular melalui transmidi makanan yang kurang higienis dan bersih. Makan dan Minum yang telah di masak atau matang, dan mencuci tangan sebelum makan,” ujar Ridwan, Selasa, 10 Mei 2022.

Baca Juga

Lebih lanjut, Ia tidak menampik bahwa akan ada kemungkinan kasus ini akan sama seperti Covid-19 hanya saja dalam penangannya tentu akan berbeda. 

“Peluangnya sama, keduanya sama-sama KLB, hanta mekanisme penularan relatuf berbeda. Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya ini masih menjadi kajian sebagai kelompok virus Hepatitis A, B atau C. Ini belum mendapatkan vaksin Covid-19, jadi tidak terkait,” tuturnya.

Ia enjabarkan peningkatan kasus terjadi secara global. Menurutnya, trend penyakit ini melibatkan mikroorganisme Aviadenovirus sebagai penyebab utamanya.

Belakangan, kasus ini mulai ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) per tanggal 12 April lalu.

Pertumbuhan kasusnya semakin naik, terhitung sejak diresmikan menjadi KLB sudah tercatat sebanyak 170 kasus dari 12 negara yang melapor. 

Sama seperti penyakit hapatitis lain, penularannya biasa terjadi melalui fecal oral transmission. Yaitu ketika patogen dalam partikel tinja seseorang berpindah ke mulut orang lain. 

Kurangnya sanitasi yang memadai serta praktik kebersihan yang buruk bisa menjadi salah satu pemicu dasar penularan wabah ini. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) Diskes Makassar, Adi Novisa menyebut pihaknya telah memberi imbauan kepada seluruh kepala puskesmas dan layanan kesehatan agar melaporkan jika mendapati pasien dengan gejala yang mengarah pada hepatitis akut.

“Kami juga berharap Puskesmas memberikan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat agar dapat memahami upaya pencegahan melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengatakan, untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya telah menginstruksikan pemantauan di rumah-rumah warga.

Danny mengaku telah memerintahkan seluruh Ketua RT/RW untuk intensif mengawasi warganya terutama anak-anak yang tiba-tiba sakit.

“Jadi saya sudah perintahkanuntuk dipantau semua puskesmas di semua rumah-rumah,” kata Danny Pomanto.

Ia mengatakan tim Detektor Covid-19 siap dialihfungsikan apabila ada kasus yang terdeteksi di Makassar.

“Kan kita punya detektor kalau memang ada eskalasi tertentu. Sekarang belum ada ditemukan,” ucap Mantan Dosen Arsitek Unhas ini.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.