Soal Suara Adzan dan Gonggongan Anjing, Achmad Nur Hidayat: Apakah Menag RI Gus Yaqut Mengidap Islamophobia Akut?

Soal Suara Adzan dan Gonggongan Anjing, Achmad Nur Hidayat: Apakah Menag RI Gus Yaqut Mengidap Islamophobia Akut?

R
Merry Lestari
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Persoalan terkait pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang disebut menyandingkan suara adzan dan gonggongan anjing masih panas diperbincangkan. 

Salah satunya tanggapan dari Pakar Kebijakan Publik NARASI INSTITUTE Achmad Nur Hidayat, atau yang kerap disapa ANH, menyebut bahwa pernyataan seperti yang diucapkan Menag hanya berasal dari orang-orang yang mengidap Islamophobia. 

ANH heran kenapa seolah-olah Menteri Agama telah memadankan panggilan azan dengan gonggongan anjing seperti para kaum islamphobia yang benci agama mayoritas penduduk NKRI. 

“Apakah Menag RI Gus Yaqut mengidap Islamophobia akut?” ujar ANH dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu, 2  Maret 2022, dikutip dari wartaeconomi.co.id. 

ANH menyayangkan Menteri Agama yang seharusnya melindungi semua agama malah menyakiti perasaan umat Islam. 

Baca Juga

“Setau kami negara yang suka menyakiti perasaan umat Islam adalah Negara Israel. Apakah Menag RI ini sudah memiliki semangat negara Israel sehingga mengikuti jejak menyakiti perasaan umat Islam,” ujarnya. 

Ia pun menilai apa yang disampaikan Menag Yaqut terkait suara azan yang disebut dibandingan dengan gonggongan anjing telah menyakiti perasaan kaum muslimin. 

Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia seharusnya memiliki elite pemimpin yang mendalami rasa dan budaya mayoritas penduduknya. 

Ia juga enjelaskan bahwa budaya Indonesia sudah menempatkan azan tidak hanya sebagai panggilan shalat, tetapi juga sebagai pengingat waktu dan doa atas bencana alam dan pengingat “eling” saat kekacauan manusia melanda seperti pada kerusuhan 1998. 

“Budaya ini seharusnya dijaga dan dilestarikan karena di negara yang bukan muslim mayoritas, azan adalah sesuatu yang dirindukan kaum muslim,” ujarnya. 

Lebih dari itu, ANH menjelaskan bahwa kegiatan penggunaan speaker di masjid-masjid dan musala sudah menjadi kearifan lokal sehingga jika dipermasalahkan, hal itu menimbulkan kesan seperti ada diskriminasi sikap dibandingkan dengan sikap kepada kearifan lokal lainnya, seperti wayang, sesajen dan lain-lain yang mendapat pembelaan. 

“Sebagai pejabat tentunya harus berhati-hati dalam membuat narasi yang sensitif karena jika salah bicara, imbasnya akan sangat besar,” ujar ANH. 

Dia pun mengusulkan agar Menteri Agama di-grounded alias di-reshuffle. 

“Presiden Jokowi sejatinya membutuhkan para pembantu presiden yang mengerti bahwa bangsa Indonesia sedang susah akibat Covid, kelangkaan minyak goreng, kedelai, dan sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk program-program pemerintah lainnya. Bukan sebaliknya, pejabat mencari musuh terus dari mayoritas penduduk,” ujar ANH. 

ANH menyebut, kebijakan Yaqut dalam membatasi azan tidak hanya tidak tepat waktu, tetapi juga berakibat fatal karena telah menyebabkan kerenggangan antara negara dan rakyat, sesuatu yang seharusnya dihindari oleh pembantu Presiden. 

“Jika sekelas menteri agama tidak bisa melihat permasalahan ini dengan wisdom-nya, sudah sewajarnya menteri yang satu ini di-grounded dari kementeriannya,” tutup ANH.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.