Sudah Terima THR? Lihat Cara Menghitung Zakat Penghasilan di Sini

Terkini.id, Makassar – Di masa sekarang, alat untuk transaksi bukan lagi dengan menggunakan emas (dinar) atau perak (dirham).

Besaran zakat di zaman nabi selalu diukur dari nilai emas dan perak tersebut.

Nah, dengan penggunaa mata uang kertas atau kartal di masa ini, umat muslim tetap harus mengeluarkan zakat dari harta berupa uang tersebut.

Dilansir dari rumaysho.com, mata uang tetap wajib dikeluarkan zakatnya karena fungsinya sebagai alat tukar sama saja dengan emas dan perak.

Hukum mata uang itu pun sama dengan hukum emas dan perak karena kaedah fiqhi ini: “al badl lahu hukmul mubdal” (pengganti memiliki hukum yang sama dengan yang digantikan).

Kapan Seorang Muslim Wajib Keluarkan Zakat?

Jumlah mata uang yang satu dan lainnya yang dimiliki seseorang muslim, bisa saling digabungkan untuk menghitung secara sempurna berapa nisab (besaran harta benda mininum yang dikenakan zakat).

Misalnya, punya mata uang dolar, riyal dan rupiah.

Nah, yang menjadi patokan untuk menentukan nisab, adalah tetap berdasarkan nilai emas atau perak.

Jika mencapai salah satu nisab dari keduanya (emas maupun perak), maka dikenakan zakat. Jika kurang dari itu, maka tidak ada zakat.

Jika kita perhatikan yang paling sedikit nisabnya ketika ditukar ke mata uang adalah nisab perak, maka patokan nishob inilah yang lebih hati-hati dan lebih menyenangkan orang miskin.
Besaran zakat mata uang adalah 2,5% atau 1/40 dari harta ketika telah mencapai haul (satu tahun).

Contoh perhitungan zakat mata uang:

Simpanan uang yang telah mencapai haul adalah Rp.10.000.000,-

Harga emas saat masuk haul = Rp 500.000 per gram (perkiraan). Nisab emas = 85 gram x Rp 500.000 per gram = Rp.42.500.000,-.

Harga perak saat masuk haul = Rp.5.000,-/gram (perkiraan). Nisab perak = 595 gram x Rp.5.000,-/gram = Rp.2.975.000,-.

Yang jadi patokan adalah nishob perak. Simpanan di atas telah mencapai nishob perak, maka besar zakat yang mesti dikeluarkan = 1/40 x Rp.10.000.000,- = Rp.250.000,-.

Zakat Penghasilan atau Gaji Bulanan

Sama halnya dengan emas dan perak, zakat penghasilan harus memenuhi syarat yang telah disebutkan.

Di antara syarat tersebut adalah penghasilan tersebut telah mencapai nisab dan telah haul (masa satu tahun). Yang jadi patokan adalah nisab perak sebagaimana penjelasan dalam nishob mata uang.

Namun perlu dipahami bahwa pekerja itu ada dua kondisi dilihat dari penghasilannya (gajinya):

Pertama: Orang yang menghabiskan seluruh gajinya (setiap bulan) untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak ada sedikit pun harta yang disimpan. Kondisi semacam ini tidak dikenakan zakat.

Kedua: Pekerja yang mampu menyisihkan harta simpanan setiap bulannya, kadang harta tersebut bertambah dan kadang berkurang. Kondisi semacam ini wajib dikenai zakat jika telah memenuhi nishob dan mencapai haul.

Adapun sebagian orang yang mengatakan bahwa zakat penghasilan itu sebagaimana zakat tanaman (artinya dikeluarkan setiap kali gajian yaitu setiap bulan), sehingga tidak ada ketentuan haul (menunggu satu tahun), maka ini adalah pendapat yang tidak tepat.

Contoh perhitungan zakat penghasilan:

Misal harta yang tersimpan dari mulai usaha atau mulai bekerja:

Pada tahun 1432 H, Muharram: Rp.500.000,-

Safar: Rp.1.000.000,-

Rabiul Awwal: Rp.500.000,-

Rabiuts Tsani: Rp.1.000.000,- (sudah mencapai nishob perak, sekitar Rp. 3 juta,-)

Berarti perhitungan haul (satu tahun) dimulai dari Rabiuts Tsani 1432 H dan Rabiuts Tsani tahun berikut wajib zakat.

Jumadal Ula: Rp.1.000.000,-

Jumadal Akhir: Rp.2.000.000,-

Rajab: Rp.1.000.000,-

Sya’ban: Rp.500.000,-

Ramadhan: Rp.2.000.000,-

Syawwal: Rp.2.000.000,-

Dzulqo’dah: Rp.3.000.000,-

Dzulhijjah: Rp.2.000.000,-

Pada tahun 1433 H, Muharram: Rp.3.000.000,-

Safar: Rp.2.000.000,-

Rabiul Awwal: Rp.1.000.000,-

Rabiuts Tsani: Rp.2.500.000,-

Di awal Rabi’uts Tsani, total harta simpanan = Rp.25.000.000,-

Zakat yang dikeluarkan = 1/40 x Rp.25.000.000,- = Rp.625.000,-

Berita Terkait
Komentar
Terkini