Terkini, Makassar — Saya dibesarkan dari tanah yang wangi bawang dan hujan dini hari: Enrekang. Dataran tinggi ini kerap disebut sebagai surga pertanian Sulawesi Selatan. Sawah dan ladang di sana bukan hanya ruang kerja, tapi juga ruang hidup—tempat keluarga dibesarkan, anak-anak disekolahkan, dan harapan disemai saban musim.
Namun, sebagai seorang guru dan warga, saya mulai menyadari: dari tanah yang seolah subur itu, sesuatu yang getir diam-diam mengalir—racun.
Para petani bawang merah, tulang punggung ekonomi lokal, menumpahkan larutan pestisida ke daun dan batang, ke tanah dan udara, bahkan ke tubuh mereka sendiri. Setiap tiga hari, semprotan kembali dilakukan. Tanpa masker. Tanpa sarung tangan. Tanpa jaminan apa-apa kecuali harapan agar ulat tak datang lagi esok hari.
Sebagian dari mereka adalah orang tua. Mereka paham ini membahayakan. Tapi mereka juga tahu: harga pupuk organik terlalu mahal, dan pasar tak memberi waktu bagi panen yang lebih lambat.
Mereka Bukan Bodoh, Mereka Terdesak
- DPRD Gowa Dukung Pencabutan Perda Lembaga Adat, Fahmi Adam: Demi Kepastian Hukum dan Hormati Sejarah Kesultanan Gowa
- Hadiri Forum ADINKES, Wakil Wali Kota Makassar Perkuat Komitmen Eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria
- Penyidik Jadwalkan Pemeriksaan Bupati Gowa Terkait Pengembangan Kasus Dugaan Pungli Perizinan Rp1,8 Miliar
- Buka Kebun Merica di Hutan Lindung Loeha Raya, 3 Orang Warga Ditahan Gakkum Sulawesi
- Urban Farming Pisang Selatan Panen Perdana, Camat Ujung Pandang Apresiasi Kolaborasi Warga
Data BPS Sulawesi Selatan 2024 menyebut Enrekang sebagai kabupaten termiskin keempat di provinsi ini. Sebanyak 11,25 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Di atasnya ada Pangkep, Jeneponto, dan Luwu.
Namun angka-angka itu, seperti kata filsuf Simone Weil, “tidak pernah mengandung penderitaan itu sendiri.” Data adalah abstraksi.
Tapi kulit yang gatal karena pestisida, anak yang batuk karena air sumur tercemar, dan napas yang pendek di musim tanam, adalah kenyataan sehari-hari.
Di depan kelas, saya kerap mengajak murid-murid berpikir tentang alam dan kehidupan yang saling jaga. Tapi di luar kelas, petani di Enrekang menyemprot ladang dengan bahan kimia yang membuat tanah menjadi keras, hitam, dan lambat menumbuhkan kembali.
Saya pun bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
