Tanah yang Diracuni, Tubuh yang Dikhianati

Tanah yang Diracuni, Tubuh yang Dikhianati

K
Kamsah

Penulis

Albert Camus pernah menulis bahwa manusia tidak mati karena kenyataan, tetapi karena kehilangan makna. Barangkali, tragedi pestisida di Enrekang bukan sekadar tentang racun, melainkan tentang makna yang terkikis dari pekerjaan bertani itu sendiri.

Dulu, bertani adalah bagian dari siklus merawat bumi. Kini ia menjadi semacam pertarungan sunyi antara petani dan harga pasar. Antara petani dan janji-janji bantuan yang datang di musim pemilu dan pergi di musim panen.

Saya melihat petani bukan hanya sebagai profesi. Ia adalah bentuk kearifan. Tapi negara tampaknya hanya melihat mereka sebagai data sasaran bantuan. Regulasi tentang pertanian sehat ada, tapi jarang sampai ke dusun.

Dinas-dinas hanya muncul sesekali—kadang hanya untuk menyerahkan alat pertanian dengan logo proyek, atau menyosialisasikan pupuk dari perusahaan tertentu.

Martin Heidegger menyebut bahwa manusia seharusnya “menjaga”, bukan “menguasai” alam. Tapi di Enrekang, saya melihat kebalikannya: tanah dipaksa memberi lebih, disiram racun tanpa henti, dan diminta tetap setia.

Baca Juga

Siapa sebenarnya yang kita lawan? Ulat? Atau sistem yang membuat petani tergantung pada pupuk kimia dan harga pasar yang tak pernah memihak?

Di tengah segala itu, ada nama yang bergema seperti jimat: Yusuf Ritangnga, atau Haji Ucu, pemilik Ratu Tani—sebuah toko pertanian yang dibangun dari kisah cinta: Ratnawati dan Ucu. Toko itu tak hanya menjual pupuk dan pestisida, tapi juga memberi pinjaman, janji, bahkan rasa aman.

Haji Ucu bukan hanya saudagar. Ia adalah sistem. Tempat petani bergantung, bukan karena pilihan, tetapi karena ketiadaan alternatif.

Kini, ia menjadi Bupati. Dan cerita tentang tanah dan racun di Enrekang seperti naskah yang ditulis oleh tangan-tangan tak terlihat, tapi kita semua tahu siapa pemilik pena itu.

Michel Foucault menyebut, “Di mana ada kekuasaan, di situ ada resistensi.” Tapi di Enrekang, kekuasaan dan ketergantungan justru berkelindan. Para petani yang membeli pupuk dari toko sang bupati adalah warga yang sama yang memilihnya. Ini bukan sekadar ironi. Ini adalah pertanyaan etis.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.