Tangan dan Hati

Tangan dan Hati

EP
Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes.
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Penulis: Dewi Setiawati

(Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar&Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi)

Sore itu hujan turun tipis di Makassar.

Ruang praktik saya hampir kosong ketika melihat seorang pasien masih duduk di kursi paling ujung ruang tunggu. Ia hanya menatap lantai, diam, seolah pikirannya sedang berada di tempat yang jauh.

Namanya Ayu.

Baca Juga

Saya mengenalnya sejak kehamilan pertama. Biasanya ia datang dengan senyum hangat, penuh cerita, dan energi yang membuat suasana ruang praktik terasa hidup. Namun hari itu berbeda. Senyumnya ada, tetapi tidak sampai ke mata.

Ketika saya bertanya apa yang terjadi, perlahan ia mulai bercerita.

Lima minggu sebelumnya, suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.

Pagi itu, seperti biasa, sang suami berangkat bekerja setelah mencium keningnya dan meminta doa. Siang harinya, kabar duka datang. Dalam sekejap, hidup yang selama ini terasa kokoh berubah menjadi penuh ketidakpastian.

Di rumah menunggu dua anak kecil. Ada seorang ibu yang sudah renta dan membutuhkan perawatan. Dan di dalam kandungannya, seorang bayi yang kelak akan lahir tanpa pernah mengenal wajah ayahnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.