Padahal hakikat kebaikan bukanlah transaksi.
Kebaikan adalah nilai yang berdiri sendiri. Ia tidak kehilangan makna hanya karena tidak mendapatkan balasan dari orang yang kita bantu.
Sebagaimana yang pernah disampaikan Imam Al-Ghazali, “Kebaikan yang paling mulia adalah kebaikan yang dilakukan tanpa mengingat-ingat dan tanpa mengharapkan balasan.”
Sebagai dokter, saya sering menyaksikan berbagai sisi kehidupan manusia. Saya menemani perempuan-perempuan yang sedang melahirkan, berjuang melawan penyakit, menghadapi kehilangan, atau memulai babak baru kehidupan mereka.
Saya pernah mengira bahwa saya selalu berada pada posisi memberi ketenangan dan pelajaran.
- Lurah Kassi-Kassi Apresiasi Edukasi Safety Riding Asmo Sulsel untuk Warga
- Hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SMK) Polbangtan Gowa Tahun 2025
- Phinisi Point Mall Hadirkan Festival Warisan Rasa Asia, SMASH Siap Hibur Pengunjung
- Kiki Ras: Public Speaking Bukan Bakat, Melainkan Keterampilan yang Bisa Dilatih
- Ketua IWO Jeneponto Kecam Keras Perampasan HP Wartawan, Desak Kapolres dan Kapolda Bertindak Tegas
Namun pengalaman bersama Ayu mengingatkan saya bahwa sering kali justru pasienlah yang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah saya temukan di bangku kuliah ataupun buku kedokteran.
Bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan menghindari kesulitan.
Melainkan kemampuan untuk tetap tegar, tetap bersangka baik, dan tetap menjaga hati setelah mengetahui bahwa hidup tidak selalu berjalan adil.
Dan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus pada akhirnya akan menemukan jalan pulang.
Hanya saja, ia tidak selalu mengetuk pintu yang sama.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
