Yang membuat saya terdiam bukan hanya beratnya cobaan yang ia hadapi, melainkan cara ia memaknainya.
Ayu bercerita bahwa ia telah menghubungi beberapa orang yang dulu pernah dibantunya ketika mereka sedang kesulitan.
Sebagian tidak membalas pesan. Sebagian lagi berjanji akan menghubungi kembali, namun tak pernah benar-benar datang.
Ia tidak marah. Ia hanya lelah.
Lelah karena selama ini menjadi tempat bersandar banyak orang, lalu mendapati dirinya harus berdiri sendiri ketika kehilangan sandaran terbesarnya.
- Dirgahayu ke-23 Terkini.id, Kepala Dinas Dukcapil Jeneponto Harap Tetap Kokoh Menyampaikan Informasi Faktual
- Pemkot Makassar Kedepankan Cara Humanis, 20 Lapak Dibongkar Mandiri
- Aksi AeroTani Mahasiswa Polbangtan Kementan Curi Perhatian di Gerakan Tanam Serempak
- 23 Tahun Terkini.id, Kapolsek Arungkeke Harapkan Tetap Jadi Pelita Informasi Tepercaya di Jeneponto
- Ansariadi, Putra Bulukumba dengan Jejak Global, Kini Pimpin FKM Unhas
Saat saya bertanya apakah ia kecewa, ia mengangguk pelan.
“Kecewa, Dok. Tapi saya tidak mau menyimpannya lama-lama. Nanti bayi saya ikut merasakan.”
Kalimat sederhana itu begitu membekas.
Dalam kondisi berduka, hamil enam bulan, dan memikul begitu banyak tanggung jawab, pikirannya masih tertuju pada kesehatan dan ketenangan anak yang belum lahir.
Beberapa minggu kemudian, Ayu datang kembali untuk kontrol rutin.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
