Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Senyumnya memang tidak lagi selebar dulu, tetapi saya melihat ketenangan yang perlahan tumbuh dari dalam dirinya.
Ia bercerita bahwa pertolongan akhirnya datang dari arah yang sama sekali tidak ia sangka.
Seorang tetangga yang jarang berbicara rutin mengirimkan makanan. Rekan kerja almarhum suaminya membantu mengurus santunan kecelakaan kerja. Orang tua teman sekolah anaknya diam-diam membayarkan iuran sekolah.
“Mereka datang sendiri, Dok,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Lalu saya bertanya, apakah setelah semua yang terjadi ia masih ingin membantu orang lain?
- Dirgahayu ke-23 Terkini.id, Kepala Dinas Dukcapil Jeneponto Harap Tetap Kokoh Menyampaikan Informasi Faktual
- Pemkot Makassar Kedepankan Cara Humanis, 20 Lapak Dibongkar Mandiri
- Aksi AeroTani Mahasiswa Polbangtan Kementan Curi Perhatian di Gerakan Tanam Serempak
- 23 Tahun Terkini.id, Kapolsek Arungkeke Harapkan Tetap Jadi Pelita Informasi Tepercaya di Jeneponto
- Ansariadi, Putra Bulukumba dengan Jejak Global, Kini Pimpin FKM Unhas
Jawabannya sederhana.
“Tentu. Hanya sekarang saya tidak menghitung lagi. Dulu saya berpikir kalau saya baik kepada orang lain, mereka juga akan baik kepada saya. Ternyata tidak selalu begitu. Tapi kebaikan tetap kembali. Hanya tidak selalu lewat pintu yang sama tempat ia keluar.”
Kalimat itu mengingatkan saya pada satu hal penting yang sering terlupakan.
Banyak orang berhenti berbuat baik bukan karena tidak mampu, melainkan karena kecewa. Mereka berharap kebaikan dibalas oleh orang yang sama, dalam bentuk yang sama, dan pada waktu yang mereka harapkan.
Ketika harapan itu tidak terwujud, kekecewaan pun lahir.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
