Terkini.id, Sulbar – Dampak dari gempa bumi 6,2 SR di Sulawesi Barat (Sulbar) yang terjadi pada beberapa waktu lalu, bukan hanya meruntuhkan rumah warga tapi juga bangunan Masjid.
Terlebih, para penyintas mengungsi terbagi di Pos Pengungsian Induk Kantor Gubernur, Kantor Bupati, dan Stadion Sepakbola.
Banyak juga warga yang memilih untuk mendirikan tenda di halaman rumahnya, bahkan mengungsi di atas perbukitan.
Di hari ketujuh pasca gempa yang mengguncang Majene dan Mamuju, distribusi bantuan mulai bisa tersalurkan terutama ke wilayah yang sulit dijangkau. Seperti Pos Pengungsian di daerah Da’ah (Mapolda Sulbar), Jalan Aiptu Norman Kalubibing, Mamuju, yang berada di atas perbukitan Kadolang.
Di sana, Dompet Dhuafa mendistribusikan bantuan logistik, mendirikan Pos Hangat dan Musala Darurat, disertai tempat wudhu yang telah dilakukan pipanisasi sebelumnya.
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Dukung Sidak Pemkot Makassar, Pastikan LPG 3 Kg Tersedia di Pangkalan Resmi
- Lantik Pejabat Fungsional, Wali kota Makassar Munafri Tekankan Pelayanan Publik Tak Boleh Sekadar Seremonial
- Bupati Jeneponto Resmikan Layanan Cathlab di RSUD Lanto Daeng Pasewang
- Kalla Toyota Gelar Toyota Serbu di TSM Makassar, Ini Deretan Promo untuk Konsumen
- Hingga September 2026, PSU 221 Perumahan di Makassar Capai Rp6,93 Triliun
Tim DMC juga menggulirkan bantuan tenda terpal dan alas matras karena warga masih berkumpul dalam satu tenda bersama.
Ahmad Yamin selaku Koordinator Respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa (DD) pada peristiwa gempa bumi Sulbar, menyebutkan, penyintas membutuhkan Musala untuk melaksanakan ibadah, mengingat dampak gempa dan kondisi tempat mereka mengungsi yang jauh dari tempat ibadah.
“Musala sebelumnya di atas sudah rusak, dan menuju masjid terdekat harus turun bukit dengan jarak sekitar satu-dua kilometer dari tempat pengungsian. Tenda pengungsian mereka pun masih ada yang terisi lebih dari dua keluarga dalam satu tenda,” ujar Ahmad Yamin lewat keterangan tertulisnya, Sabtu 30 Januari 2021.
Selain itu, kata Ahmad, di perbukitan tersebut tidak ada toilet. Untuk buang air, penyintas harus turun ke kali atau menggali lubang di tanah.
Oleh karenanya, pihaknya dari Tim DMC mendirikan sarana MCK agar membantu kebutuhan penyintas di wilayah tersebut.
“Selain aspek medan jalan yang sulit dilalui sebab ada beberapa ruas jalan yang terputus akibat longsoran bahkan terhalang batu serta kondisi geografis berupa perbukita yang merupakan lokasi pos-pos pengungsi menjadi tantangan tersendiri bagi tim DMC DD untuk dapat mendistribusikan bantuan bahkan membuat instalasi sumur bor dengan area yang minim sumber mata air,” lanjut Ahmad Yamin.
Tidak hanya itu, Tim DMC juga membuat instalasi Sumur bor Air Bersih (SAB) di beberapa titik pengungsian, salah satunya di area Masjid Baitul Ikhsan Jl. M. Husni Tamrin No. 8 Mamuju.
Pasalnya, kata Ahmad, penyintas yang mengandalkan air bersih bersumber dari Masjid itu dan hanya mengalir dari jam 4-7 pagi.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
