Terkini.id, Makassar – Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar Amalia Malik mengatakan uji coba pembelajaran tatap muka sudah berlangsung lebih awal di daerah kepulauan.
Uji coba tersebut berjalan usai Idul Fitri 1442 Hijriah. Hanya saja, kata Amalia, pembelajaran tersebut berlangsung satu kali dalam seminggu.
“Selesai hari raya, jadi kita biarkan uji coba. Itupun dia uji coba satu Minggu satu kali,” ujar Amalia, Senin, 21 Juni 2021.
Menurut Amalia daerah kepulauan cenderung lebih muda melakukan uji coba sekolah tatap muka. Hal itu sebab situasi kepulauan minim mobilitas lantaran terisolasi.
Laporan beberapa daerah kepulauan relatif aman dengan berstatus zona hijau, seperti Kepulauan Sangkarrang.
- Tren Kasus Covid-19 Naik, IDI Makassar Usul Gabungkan Sekolah Tatap Muka dan Online
- PTM Tak Diberhentikan Meski Lonjakan Kasus Covid-19 Tinggi, Ini Alasan Dinkes DKI
- Vaksinasi Anak Jadi Prioritas Pemerintah, Airlangga: Agar Sekolah Tatap Muka Segera
- Meski di Tengah Munculnya Varian Omicron, Kemendikbudristek Nyatakan Sekolah Tatap Muka Akan Tetap Dijalankan
- Harus Lebih Waspada, Kasus Positif pada Siswa Bertambah Sejak Pembelajaran Tatap Muka
“Dari awal dia kan zona hijau. Jadi memang sudah bisa dibenarkan tatap muka,” ucapnya.
Lebih lanjut Amalia mengatakan sejak dibuka pascalebaran, belum ada evaluasi khusus yang dilakukan di sana. Amalia optimis tidak ada peningkatan kasus selama protokol kesehatan diterapkan.
Sementara itu, Camat Kepulauan Sangkarrang Finandar Sabara mengatakan pagelaran sekolah tatap muka di wilayahnya di bawah kontrol kecamatan.
Kepala sekolah tetap rutin diminta untuk melaporkan situasi pembelajaran tatap muka di sekolah.
“Jadi kita kerjasama (dengan sekolah), kita lihat bagaimana dia laksanakan dia punya sekolah tatap mukanya. Termasuk prokesnya itu tetap diberikan tanggung jawab sekolah untuk lakukan, dia sisa lapor, dia koordinasi ke kita,” katanya.
Finandar mengatakan daerah kepulauan memang sudah seharusnya diizinkan gelar sekolah tatap muka. Pasalnya, mayoritas masyarakat merupakan warga kurang mampu yang kesulitan menghadirkan piranti untuk daring. Selain itu, persoalan jaringan tidak memadai.
“Sejak awal memang dia susah kalau mau online, karena itu tadi. Maksudnya tidak semua mampu di sana, jaringan juga tidak bagus,” ujarnya.
Dia mengatakan dari laporan kepala sekolah, beberapa guru menerapkan sistem pembagian tim. Murid dibagi dalam rombel dan dilakukan secara terbatas.
“Jadi sebenarnya kalau mau dibilang, itu amanji, karena memang terisolir dan suhu juga di sana sangat panas,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
