‘Uniknya’ Hand Sanitizer dan Hand Soap Berbahan Gaharu oleh BLI KLHK

terkini.id-Bogor, Sejak merebaknya pandemi COVID-19 di dunia, menjaga kebersihan tangan menjadi langkah utama yang perlu dilakukan, selain menggunakan masker.

Dilansir pada laman puslitbanghut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (P3H) Badan Litbang dan Inovasi KLHK , terus berinovasi dengan menghasilkan sabun pencuci tangan (hand soap) berbahan baku minyak gaharu serta Hand sanitizer berbahan dasar minyak gaharu.

Sebagaimana diketahui, Gaharu merupakan resin yang tersimpan dalam jaringan pohon hidup marga Thymelaeceae, beraroma harum dan berwarna coklat kehitaman sampai hitam. Gaharu banyak digunakan sebagai bahan dasar parfum, farmasi, aromatherapi dan obat tradisional dari bahan alami.

Definisi gaharu pernah dikemukakan oleh Sulistyo A. Siran dan Maman Turjaman di tahun 2010, dalam buku yang berjudul ‘Pengembangan Teknologi Produksi Gaharu Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan’. Dijelaskannya ‘gaharu’ adalah gumpalan berbentuk padat, berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum, yang terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis tumbuhan penghasil gaharu, yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Sementara itu, jenis pohon yang dikenal secara umum sebagai penghasil gaharu adalah Aquilaria sp.

Menarik untuk Anda:

Pembuatan Hand sanitizer berbahan alami dari gaharu (HaRus) menurut Peneliti Mikrobiologi Hutan, Dr. Asep Hidayat, proses pembuatan HaRus cukup mudah, selama tersedia bahan baku.

“Pembuatan HaRus sama seperti sanitizer pada umumnya, yaitu menggunakan etanol 96%, gliserol 98%, hidrogen peroksida 3%, dan air steril. Hanya disini ada penambahan minyak gaharu sebanyak 0,15 ml untuk produksi 1 liter,” terangnya.

Asep menjelaskan, setelah proses pencampuran dan pengadukan di dalam tabung Erlenmeyer, larutan kemudian dipindahkan ke dalam botol kaca bersih. “Larutan kemudian disimpan selama 72 jam untuk memastikan tidak ada kontaminasi organisme dari wadah botol, dan hand sanitizer siap digunakan,” jelasnya.

Selain HS gaharu, P3H juga memproduksi HS aloe vera serta HS gaharu sediaan gel. Sebagai permulaan, total telah diproduksi 20 liter HS dari beberapa jenis tersebut, dan saat ini sedang dipersiapkan produksi tahap kedua sebanyak 20 liter.

Tidak ketinggalan juga, saat ini tim peneliti mikrobiologi hutan juga mengembangkan sabun pencuci tangan (hand soap) berbahan baku gaharu. Sebagaimana disampaikan Kepala P3H Kirsfianti L. Ginoga beberapa waktu lalu, kegiatan ini merupakan salah satu langkah P3H dalam mendukung penanggulangan Covid-19.

“Di tengah ancaman krisis kesehatan Covid-19, sabun pencuci tangan menjadi kebutuhan primer. Sabun yang mengandung bahan aktif minyak gaharu (memiliki > 50 senyawa aktif) sangat baik untuk membunuh/membasmi mirkoorganisme (bakteri, jamur termasuk virus), selain manfaat lainnya sebagai pengangkat kotoran, keringat, debu, dan merawat kelembutan kulit,” ujar Dr. Asep Hidayat, peneliti laboratorium Mikrobiologi Hutan, sekaligus inovator hand soap gaharu ini.

Sebagaimana dijelaskan Dr. Asep, hand soap gaharu ini dibuat dalam bentuk cair dengan kandungan SLS 70N (2,5%), Na2SO4 (2%), NaCl (2%), Amphitol (5,6%) ,Tergitol NP10 (0,05%), BKC (0,01%), Gliserin 98% (0,1%), Sodium Benzoat (0,1%), Pewarna (0,005%), Vanilin (0,001%), Minyak Gaharu (0,025%).

“Sebelumnya kami mencoba 0,015% untuk kandungan minyak gaharu, namun setelah dilakukan uji organoleftik terhadap kelembutan, jumlah busa, keharuman dan residu sabun yang tersisa, hasilnya lebih baik jika komposisi minyak gaharunya ditambah,” lanjutnya.

Asep juga mengakui, penambahan minyak gaharu cukup berpengaruh terhadap biaya produksi hand soap. “Minyak gaharu menempati komponen biaya produksi yang paling tinggi dibandingkan bahan lainnya.

“Untuk komposisi 0,025% minyak gaharu diperlukan biaya produksi sekitar 40 ribu rupiah per liter. Sementara tanpa penambahan minyak gaharu hanya dibutuhkan biaya produksi sekitar 3 ribu rupiah per liter. Harga produksi tersebut diluar biaya kemasan dan operasional lainnya,” pungkasnya.

Bagikan