Terkini.id, Jakarta – Utang Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo tembus angka Rp. 7000 triliun per Februari 2022. Lonjakan utang di masa pemerintahan Jokowi menyita perhatian sejumlah pihak, salah satunya Politisi Demokrat, Hasbi Lubis.
Ditengah lonjakan utang Indonesia, Hasbi Lubis memberikan kritikan tajam kepada pemerintah dan pihak yang meneriakkan 3 periode. Hasbi menyebut masih pantaskah kalian teriak 3 periode, gak tahu malu, ngacalah.
Seiring dengan lonjakan utang Indonesia, PPN juga mengalami kenaikan hingga 11 persen, tarif tol dan BBM jenis Pertamax juga mengalami lonjakan harga. Selain itu, juga beredar kabar bahwa gas LPG 3 Kg juga akan mengalami kenaikan. Bahkan harga sembako juga mulai mengalami kenaikan.
“Utang naik, PPN naik, tarif tol naik, BBM naik, harga sembako naik, dll. Pantas kalian teriak 3 periode? Gak tau malu! Ngacalah kalian!”, tulis Hasbi Lubis, dikutip dari akun Twitter pribadinya, Sabtu 2 April 2022.

Lonjakan utang Indonesia diumumkan oleh Kementerian Keuangan bahwa posisi utang Indonesia berada di angka Rp 7.014,58 triliun atau sebesar 40,17% terhadap produk domestik bruto (PDB).
- Resmikan Gedung Ibu dan Anak RS Wahidin Makassar, Presiden Jokowi: Seperti Masuk Hotel Bintang 5
- RS Wahidin Makassar Gelar Operasi Implan Koklea Bantuan dari Presiden RI dan Kemenkes ke Anak Asal Gorontalo
- Setelah Penantian Panjang, Jufri Rahman Akhirnya Jabat Sekprov Sulawesi Selatan
- Dapat Golden Visa dari Jokowi, Shin Tae-yong Ucapkan Kalimat Menyentuh
- Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Tinjau Simulasi Drone Tabur Pupuk di Papua Selatan
Berdasarkan laporan APBN pada edisi maret, terjadi peningkatan total utang pemerintah seiring dengan penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman pada bulan Februari 2022.
“Per akhir Februari 2022, posisi utang Pemerintah berada di angka Rp 7.014,58 triliun dengan rasio utang Pemerintah terhadap PDB sebesar 40,17 persen”, tulis Kemenkeu dalam rilis APBN KiTa, dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu 2 April 2022.
Utang tersebut terdiri atas surat berharga dengan denominasi rupiah senilai Rp 4.901 triliun dengan rincian Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 4.054 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 847 triliun.
Sementara itu, pinjaman pada saat ini berada di posisi Rp 850 triliun atau 12,12 persen dari total utang yang ada.
Pinjaman terbagi dua, yakni dari dalam negeri sebesar Rp 13,27 triliun dan luar negeri sebesar Rp 837 trilun.
Pinjaman yang datang dari luar negeri tersebut berasal dari beberapa sumber, seperti kerjasama bilateral sebesar Rp 294 triliun, multilateral sebesar Rp 499 triliun dan perbankan komersial Rp 43 triliun.
Utang tersebut digunakan Kemenkeu untuk menutupi pembiayaan anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebelumnya pada bulan Januari, posisi utang Indonesia berada pada angka Rp 6.919 triliun dengan rasio utang terhadap PDB hanya sebesar 39,63 persen.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
