WHO: Varian Delta adalah Peringatan Sebelum Mutasi Jadi Virus yang Lebih Ganas

Terkini.id, Jakarta – Penularan virus corona varian Delta yang kian masif menulari warga dunia, disikapi WHO dengan tegas. Organisasi Kesehatan Dunia itu mengungkapkan, Covid-19 varian Delta merupakan peringatan kepada dunia guna menekan laju infeksi virus dengan cepat sebelum bermutasi menjadi varian yang lebih ganas dan buruk.

Hal tersebut diungkapkan WHO dalam konferesi persnya, Jumat 30 Juli 2021, seperti dilansir dari CNNIndonesia, Sabtu 31 Juli 2021. Menurut mereka, varian yang sangat mudah menular, dan pertama kali terdeteksi di India. Setelah itu, kini telah muncul di 132 negara dan wilayah.

“Delta adalah peringatan, ini adalah peringatan virus berkembang tetapi juga merupakan seruan untuk bertindak. Kita perlu bergerak sekarang, sebelum varian yang lebih berbahaya muncul,” tegas Emergencies Director WHO Michael dikutip dari AFP.

Baca Juga: Catat! Pemerintah Tiadakan Cuti Bersama 24 Desember 2021, Ini Alasannya

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sendiri mengatakan hal serupa, sampai saat ini sudah ada empat varian yang mengkhawatirkan sudah muncul.

“Akan lebih banyak lagi selama virus tersebut masih terus menyebar,” imbaunya.

Baca Juga: Dewan Minta Pemkot Makassar Fokus Benahi Fasilitas Kesehatan

Tedros mengatakan, rata-rata infeksi meningkat 80 persen selama empat minggu terakhir di lima dari enam wilayah WHO.

Kendati varian Delta telah mengguncang banyak negara, Ryan mengatakan langkah-langkah yang terbukti untuk mengendalikan penularan masih berhasil, terutama menjaga jarak fisik (physical distancing), memakai masker, kebersihan tangan, dan menghindari waktu lama di dalam ruangan di tempat-tempat yang berventilasi buruk dan ramai.

“Cara ini menghentikan varian Delta, terutama ketika Anda menambahkan vaksinasi,” jelasnya.

Baca Juga: Dewan Minta Pemkot Makassar Fokus Benahi Fasilitas Kesehatan

Ryan juga memaparkan, virus varian Delta akan semakin bugar dengan penularan yang cepat.

“Rencana program mitigasi (penanggulangan) masih berfungsi, tetapi kita perlu menerapkan dan menjalankan rencana permainan jauh lebih efisien dan lebih efektif ketimbang yang pernah dilakukan sebelumnya,” bebernya.

WHO sendiri ingin setiap negara telah memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasinya pada akhir September 2021. Setidaknya, 40 persen pada akhir tahun ini dan 70 persen pada pertengahan 2022.

“Kami masih jauh dari mencapai target itu,” aku Ryan.

Ia mengatakan, lebih dari setengah dari 194 negara anggota WHO telah sepenuhnya memvaksinasi 10 persen dari populasi mereka. Kurang dari seperempat telah divaksinasi sebesar 40 persen, dan hanya tiga negara yang telah memvaksinasi 70 persen.

Sementara itu, WHO mengatakan Burundi, Eritrea, dan Korea Utara adalah satu-satunya negara anggota yang tersisa yang belum memulai kampanye vaksinasi Covid-19.

“Tidak ada solusi ajaib (untuk menanggulangi varian Delta),” tegas Ryan.

Sehingga, imbaunya, satu-satunya keajaiban yang dimiliki adalah vaksinasi.

“Masalahnya adalah kita tidak memberikannya secara merata di seluruh dunia dan kita bekerja melawan diri kita sendiri,” ungkap Ryan.

Bagikan