Ancaman yang Lebih Ngeri dari Covid, Ilmuwan: Mendorong Bumi ke Lingkaran Setan yang Tak Terkendali

Terkini.id, Jakarta – Perubahan iklim dan pemanasan global kian semakin membuat dunia mengkhawatirkan. Pasalnya Gunung es di Kutub Utara diketahui mencair. Oleh karena itu dikatakan sebagai acaman yang paling menakutkan dari Virus Covid.

Seorang ilmuwan Rachael Treharne, ahli ekologi Arktik di Woodwell Climate Research Center memperingatkan bahwa pencairan es di tanah Arktik atau Kutub Utara dapat mendorong planet Bumi ke ini ke dalam lingkaran setan pemanasan yang tak terkendali.

Di mana menurutnya, pemanasan ini merupakan simpanan besar karbon di tanah yang mencair melepaskan gas rumah kaca yang kuat.

Baca Juga: Hasil Penelitian Ilmiah Sebut Omicron Serang Tenggorokan Daripada Paru-Paru, Ilmuwan:...

“Ini kemungkinan akan semakin cepat karena skala pemanasan yang kita lihat di Kutub Utara. Sudah, kami melihat perubahan yang tidak dapat diubah,” Kata Rachael Treharne.

Bahkan dia mengatakan Selama ribuan tahun, permafrost atau tanah yang membeku selama dua tahun atau lebih berturut-turut, membuat tumbuhan dan hewan mati terkunci di dalam deep-freeze di bawah tundra.

Baca Juga: Jam ‘Kiamat’ Gak Gerak, Bumi Semakin Dekat di Titik Kehancuran?

Namun karena pencairan es, sisa-sisa purbakala berjumlah sekitar 1.600 miliar ton karbon organik, hampir dua kali lebih banyak dari yang saat ini ditemukan di atmosfer bumi. Dikutip dari CNBC. Jumat, 29 Oktober 2021.

Tanah Arktik sendiri meliputi seperempat Belahan Bumi Utara. Ini mulai cair akibat kenaikan suhu, kebakaran hutan yang luas, dan gelombang panas di Siberia dan wilayah utara jauh lainnya. Pada gilirannya, itu mengubah penyerap karbon Kutub Utara menjadi sumber gas rumah kaca.

Di antara gas-gas itu adalah metana, gas hingga 34 kali lebih kuat daripada karbon dioksida (CO2) dalam memerangkap panas di atmosfer Bumi selama periode 100 tahun. Selama 20 tahun, itu bisa menjadi 86 kali lebih kuat.

Baca Juga: Jam ‘Kiamat’ Gak Gerak, Bumi Semakin Dekat di Titik Kehancuran?

Selain itu ada nitrous oxide, yang potensi pemanasannya kira-kira 300 kali lebih banyak daripada CO2 dalam skala waktu 100 tahun.

Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan peternakan juga memanaskan atmosfer, mendorong lapisan es mencair dan melepaskan gas rumah kaca tambahan.

Kegiatan ini menyebabkan pemanasan, pencairan, dan emisi lebih lanjut, yang membawa dampak terburuk perubahan iklim jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Sebab, Kutub Utara telah memanas hingga lebih dari 2C (3,8F) di atas rata-rata pra-industrinya. Suhu juga diperkirakan akan meningkat lebih jauh.

Garis lintang utara ini memanas lebih dari dua kali lipat rata-rata global karena hilangnya es laut dengan cepat, menggantikan permukaan putih dengan biru-hitam yang sangat menyerap panas.

Para ilmuwan juga telah mendeteksi percepatan pelepasan gas rumah kaca yang kuat ini di Samudra Arktik di lepas pantai Siberia utara Rusia.

Dikenal sebagai hidrat, kristal yang terbuat dari molekul gas metana yang terperangkap di antara molekul air padat runtuh saat suhu naik. Ini kemudian dibuang ke atmosfer setelah mencapai permukaan sebagai gelembung.

Peringatan datang menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26). Rencana pengurangan emisi karbon bisa digodok dalam konferensi yang akan digelar di Glasgow, Skotlandia mulai 31 Oktober hingga 12 November mendatang.

 

Bagikan