Upaya Meredupkan Matahari Buat Para Ilmuwan Menjerit : Berbahaya!

Terkini.id, Jakarta – Bagaimana jadinya jika matahari yang selama ini bersinar dengan begitu teriknya diredupkan? 

Baru-baru ini beredar kabar terkait upaya meredupkan matahari dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim. 

Diketahui, berbagai solusi telah dikemukakan para ahli, salah satunya adalah  upaya meredupkan Matahari

Baca Juga: Hasil Penelitian Ilmiah Sebut Omicron Serang Tenggorokan Daripada Paru-Paru, Ilmuwan:...

Akan tetapi para ilmuwan ini teriak menentang upaya meredupkan matahati tersebut karena menganggapnya berbahaya. 

Pasalnya, secara teori, inti dari gagasan ini adalah memantulkan kembali cahaya Matahari ke angkasa dengan bahan kimia aerosol. 

Baca Juga: Giring PSI Disetarakan dengan Mark Zuckerberg dan Bill Gates, Roy...

Proses skala besar yang disebut solar geoengineering itu, mungkin akan digunakan seandainya di masa depan, terdapat area dengan luas signifikan di Bumi yang terlampau panas untuk ditinggali. 

Meski demikian, sebanyak 60 ilmuwan dan pakar kebijakan publik baru saja menandatangani surat terbuka yang meminta pemerintah untuk melarang solar engineering semacam itu. 

“Kami meminta pemerintah dan PBB untuk mengambil kontrol politik yang efektif dan segera terhadap perkembangan teknologi solar engineering ini,” kata mereka dalam Futurism, dikutip dari detiknews.com, Jumat, 21 Januari 2022.

Baca Juga: Giring PSI Disetarakan dengan Mark Zuckerberg dan Bill Gates, Roy...

Mereka menyebut berbagai macam konsekuensi negatif seandainya teknik meredupkan Matahari benar-benar dilakukan. 

Apalagi riset terhadap teknologi ini dinilai belum cukup memadai. 

“Dampaknya mungkin akan bervariasi di wilayah-wilayah, di saat pendinginan buatan ini akan lebih berimbas di beberapa area dibandingkan yang lain,” papar mereka. 

“Terdapat pula ketidakpastian tentang dampaknya pada pola cuaca regional, pertanian dan terhadap kebutuhan mendasar pada makanan dan minuman,” tambah mereka lagi. 

Dikhawatirkan juga justru yang akan mengalami dampak paling parah adalah para warga miskin. 

Mengingat, penerapan teknologi meredupkan Matahari mungkin susah dikontrol dan bisa jadi akan menguntungkan orang kaya saja. 

Proyek menangkis sinar Matahari yang disebut sebagai Stratospheric Controlled Perturbation Experiment ini misalnya digagas oleh akademisi Harvard dan didanai sebagian oleh Harvard University Solar Geoengineering Research Program (SGRP), lembaga yang dimodali Yayasan Bill Gates

Sehingga, teknologi meredupkan Matahari ini memang didukung pentolan teknologi besar. 

Pada pertengahan tahun 2021 silam, uji coba pertama sempat direncanakan berlangsung di Swedia, untuk mengetahui apakah metode peneliti berhasil sesuai teori.

Dalam eksperimen ini, volume kecil bahan kimia aerosol akan dibawa oleh balon dan disebar di langit pada lokasi yang spesifik. 

Namun, Harvard telah mengumumkan penundaan untuk memastikan lagi bagaimana dampak yang mungkin terjadi pada area uji coba secara lebih detail. 

Balon yang dapat terbang tinggi itu awalnya direncanakan meluncur dari Esrange Space Station di Kiruna, Swedia. 

Gunanya untuk memastikan apakah bisa dilangsungkan uji coba menghalangi Matahari dalam skala yang lebih besar. 

Balon yang dapat terbang tinggi itu awalnya direncanakan meluncur dari Esrange Space Station di Kiruna, Swedia. Gunanya untuk memastikan apakah bisa dilangsungkan uji coba menghalangi Matahari dalam skala yang lebih besar. 

Namun baru-baru ini, dewan penasihat Harvard merekomendasikan menundanya sampai bisa diketahui dampaknya. 

“Hal ini kemungkinan akan menunda peluncuran platform itu sampai tahun 2022,” sebut mereka. 

Terlebih ada juga penolakan dari penduduk di lokasi uji coba, yaitu orang Saami, suku asli Swedia. 

“Ini melawan pandangan kami bahwa kita harus menghormati alam. Kami punya sikap sangat jelas bahwa kami tidak setuju dengan pengembangan geoengineering Matahari di Sapmi,” kata Asa Larsson Blind, Vice Presiden Saami Council. 

Beberapa ilmuwan memang menyebut uji coba menghalangi sinar Matahari ini berisiko merusak ekosistem. 

Hal itu juga telah diakui oleh tim Harvard sendiri sebelumnya. Menyebarkan bahan kimia ke orbit melawan hukum alam. 

Bisa jadi cuaca akan jadi sukar diprediksi, menyebabkan kekeringan yang pada gilirannya membuat pasokan bahan pangan tersendat.

Bagikan