Antara Rasisme di Amerika dan Kasus Rasisme di Indonesia

Antara Rasisme di Amerika dan Kasus Rasisme di Indonesia

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Saat itu Yayasan ini akan memberikan penghargaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhyono.

Di surat tersebut Indonesia, dan khususnya Umat Indonesia begitu digambarkan begitu jahat dan intoleran kepada Umat lain di negeri ini.

Sedemikian buruknya maka Presiden negara ini tidak berhak untuk menerima penghargaan tersebut.

Saya mengetahui surat tersebut karena memang saya bersahabat dengan Rabbi Schneier.

Beliau adalah Rabbi pertama Yang saya kenal pasca 9/11. Beliau kebetulan juga bersahabat dengan mantan Presiden RI, Gus Dur.

Baca Juga

Anaknyalah, Rabbi Marc Schneier yang menjadi partner saya dalam membangun Dialog antara masyarakat Muslim dan Yahudi di Amerika.

Contoh di atas hanya satu dari sekian kasus yang ada. Bahwa memang ada pihak-pihak tertentu dengan sengaja mencari cara untuk memburuk-burukkan Indonesia di mata dunia.

Terkadang karena kasus tertentu. Bahkan kadang pula dengan mengada-ngada, memplintir sebuah isu jauh dari konteksnya Yang benar.

Kedua, karena sebagai putra bangsa Yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia, minimal hingga tamat sekolah menengah atas, saya tahu Indonesia tidak seperti yang digambarkan. Saya tahu Indonesia tidak memiliki mentalitas rasisme.

Tuduhan bahwa tidak ada kebebasan beragama di Indonesia juga sangat salah dan fatal. Ungkapan bahwa “I have come to US so I can breath freedom” sesungguhnya adalah pelecehan kepada Indonesia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.