Antara Rasisme di Amerika dan Kasus Rasisme di Indonesia

Antara Rasisme di Amerika dan Kasus Rasisme di Indonesia

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Maka sekali lagi, kritikan saya kepada pendeta itu bukan kecenderungan intoleransi kepada kelompok tertentu. Tapi bentuk pembelaan keadilan kepada negeri dan Umat sendiri.

Dan saya tidak akan ragu untuk melakukan ini. Jangan pernah berharap karena pujian kepada saya sebagai orang toleran dan moderat, lalu anda menyangka akan diam ketika Umat sendiri terzholimi.

Sebaliknya saya tidak akan diam ketika Umat lain juga terzholimi haknya. Karena bagi saya prinsip “do to others what you want others to do to you” (lakukan kepada orang lain apa yang kamu inginkan orang lain lakukan padamu) adalah prinsip.

Itulah sebabnya saya melihat bahwa Islamophobia dan antisemitisme di Amerika adalah dua sisi mata uang yang sama.

Melawan Islamophobia memiliki dasar yang sama untuk melawan prilaku anti semitisme. Karena apa yang terjadi pada orang lain boleh jadi juga akan terjadi pada diri kita sendiri.

Baca Juga

Antara rasisme Amerika dan kasus rasisme di Indonesia

Lalu apa dasar utama saya mengkritisi pidato sang Pendeta itu? Kenapa saya perlu menyuarakan ini?

Ada banyak alasan tentunya. Tapi saya hanya ingin menyebutkan tiga alasan penting dari semua itu.

Pertama, Karena saya memang cukup muak dan lelah (tired) mendengarkan banyak statemen di luar negeri yang memburuk-burukkan Indonesia, yang terkadang tidak berdasar bahkan diada-ada.

Saya masih ingat bagaimana sebuah surat pernah dilayangkan ke sebuah organisasi besar di kota New York, Appeal of Conscience Foundation, di bawah Pimpinan Rabbi Arthur Schneier.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.