Terkini.id, Jakarta – Seorang Guru Besar Hukum Internasional UI, yakni Hikmanto Juwana, menyebut bahwasanya perang Rusia-Ukraina kini bergeser ke Indonesia.
Ya, Tanah Air tercinta, Indonesia, dinilai sudah menjadi medan perang antara Rusia dan Ukraina.
Hal itu terjadi akibat keputusan Indonesia yang mengundang Rusia ke acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali.
Lebih lanjut, Hikmanto kemudian menjelaskan bahwa perang ini bukan hanya soal Rusia dan Ukraina.
Itu karen Amerika Serikat dan NATO ikut berperan dalam perang tersebut hingga menyeret masuk Indonesia melalui KTT G20.
- Media Asing Sebut Putin Tidak Akan Hadir Dalam KTT G20
- Perdana Menteri Kanada Anggap Putin Telah Gagal Invasi Ukraina
- Fadli Zon ke Ukraina, Faizal Assegaf: Jangan Tiru yang Gagal Ntar Bikin Malu
- Gara-Gara Ledekan Negara Barat, Rusia Walk Out Dari G20 Bali
- Indonesia Desak Negara G20 Bantu Akhiri Perang di Ukraina
“Kalau Ukraina itu sebagai medan perangnya saja, sebenarnya Rusia dan Amerika Serikat, dan NATO-nya ( yang berperang),” paparnya dalam diskusi Crosscheck by Medcom.id dengan tema ‘Konflik Rusia-NATO Bergeser ke Indonesia’, dikutip terkini.id pada Senin, 28 Maret 2022.
“(Tapi medan perangnya) sekarang sudah bergeser ke Indonesia dan kita bicara masalah ekonomi.”
Perang ini dianggap pindah ke Indonesia usai banyak desakan dari negara lain yang menolak Rusia diundang dalam ajang KTT G20, sedangkan Indonesia tegas tetap ingin mengundang Rusia sebagai anggota KTT G20.
“Hari Kamis kemarin memang betul stafsus Menteri Luar Negeri sudah menyampaikan, kita akan mengundang semua anggota dari G20 karena ini menjadi preseden.”
Pernyataan Indonesia yang tetap mengundang Rusia pun diyakini sebagai balasan dari permintaan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.
Ya, diketahui bahwa Biden meminta Indonesia untuk melupakan Rusia sebelum pernyataan undangan itu muncul.
“Joe Biden ditanyakan (oleh jurnalis) ‘bagaimana ini?’ Lalu beliau mengatakan bahwa ‘kita sebenarnya minta bahwa Indonesia mempertimbangkan agar tidak mengundang Rusia’.
Sebagai informasi, penolakan juga dilancarkan Australia yang enggan satu ruangan bersama Rusia dalam KTT G20.
Sementara itu, Tiongkok justru membela Indonesia karena undangan ke Rusia merupakan konferensi ekonomi.
“Tiongkok juga sudah mengatakan itu, bagaimana mungkin G20 bicara soal ekonomi, tapi meninggalkan Rusia.”
Ia lantas menilai bahwa Indonesia saat ini seperti bidak catur yang dipenuhi negara yang sedang berseteru.
Oleh karena itu, Indonesia diharapkan bisa menentukan langkah agar tidak terseret dalam peperangan ini.
“Kalau kita pandai membaca ini, maka sekarang ‘bola panas’ ada di Indonesia,” pungkas Hikmanto.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
