Bahas Protokol Tatanan Baru, Dewan Profesor Unhas Gelar Webinar Nasional

Terkini.id, Makassar – Dewan Profesor Universitas Hasanuddin (DP Unhas) kembali menggelar Webinar Nasional mengangkat tema Protokol Keperilakuan menuju Tatanan Baru dalam Perspektif Kearifan Lokal dan Kesalehan Sosial.

Tema ini diangkat menyusul kebijakan Pemerintah yakni Adaptasi Kebiasaan Baru. Kegiatan ini diikuti oleh Profesor dan sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui platform Zoom dan Youtube.

Ketua Dewan Profesor Universitas Hasanuddin, Prof. Mursalim dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dari Webinar ini adalah membedah dan menawarkan gagasan-gagasan berdasarkan isu-isu terkini yang muncul di masyarakat.

Baca Juga: Gappembar Komisariat Unhas Gelar Musyawarah Anggota

“Ini merupakan Webinar kelima yang diselenggarakan Dewan Profesor dan harapannya tawaran gagasan terkait bagaimana tatanan baru kehidupan dilihat dari perspektif local wisdom,” ungkap Prof. Mursalim, Sabtu, 18 Juli 2020.

Webinar ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dwia Arief Tina Pulubuhu.

Baca Juga: Humanis Fisip Unhas Gelar Seminar Hasil Administration Review

Dalam sambutan resminya, Rektor Unhas mendukung penuh berbagai langkah dari Dewan Profesor dalam menawarkan gagasan mendukung Adaptasi Kebiasaan Baru.

Menurutnya, selama ini, berbagai upaya seperti PSBB, sanksi, sampai penetapan protokoler kesehatan belum menunujukkan pelandaian kasus. Sehingga perlu perspektif baru berbasis perilaku sosial dan kearifan lokal.

Dalam webinar ini, Narasumber dari Guru Besar UGM, Prof. Irwan memandang Pandemi Covid-19 sebagai prakondisi bagi grand transformation yang menghadapkan manusia pada tantangan perubahan alam dan transformasi sosial. Bahkan, Pandemi ini menjadi preseden bagi berlakunya sistem sosial baru.

Baca Juga: Humanis Fisip Unhas Gelar Seminar Hasil Administration Review

“Kearifan New Social Order adalah satu perspektif baru yang relevan dalam menghadirkan tatanan baru yang lebih baik,” ungkap Prof Irwan.

Sementara Ketua DKPP RI, Prof. Muhammad juga berpandangan bahwa perubahan sosial menjadi tantangan tersendiri di masa Pandemi.

“Akan ada banyak perilaku sosial yang dahulunya dianggap kurang beretika, kemudian menjadi beretika di masa Pandemi ini. Maka, akan memunculkan standar perilaku yang baru. Akan tetapi, perubahan tersebut tetap mengedepankan integritas dan kompetensi,” ungkap Prof. Muhammad.

Setali tiga uang, Budayawan Alwi Rachman menganggap bahwa perubahan sosial yang terjadi di masyarakat mesti mengedepankan kearifan lokal ataupun kebudayaan yang berkembang.

“Tentu, situasi liminal ini bisa saja menimbulkan ambiguitas dan disorientasi terhadap hal-hal baru. Maka perlu kehati-hatian dalam upaya membentuk struktur pengalaman baru,” ungkap Alwi Rachman.

Dalam skala yang lebih kecil, tatanan kehidupan baru ini juga berefek pada dunia akademik. Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Koentjoro Soeparno melihat Pandemi ini sebagai pijakan untuk mewujudkan program Merdeka Belajar.

“Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memang dari dulu memunculkan diskursus kritis terkait esensi belajar. Tetapi, dengan adanya Pandemi, PJJ menjadi satu keharusan baru sebagai bentuk adaptasi terhadap keadaan. PJJ ini juga bisa membuka ruang lebar bagi seluruh masyarakat untuk mengakses pendidikan tanpa dibatasi oleh ruang,” ungkapnya.

Webinar ini memang sangat komunikatif, interaktif, dan kaya akan ide dan gagasan. Pandemi yang selama ini hanya dipandang dari perspektif kesehatan dan ekonomi, juga akhirnya mendapat perspektif baru dari sudut pandang kearifan lokal dan kesalehan sosial.

Harapannya, Webinar ini akan semakin memperkaya perspektif masyarakat Indonesia dalam melihat Pandemi Covid-19.

Sekretaris Divisi I DPUH, Prof. Akmal Ibrahim yang bertindak sebagai moderator menyampaikan rasa terima kasihnya atas pandangan-pandangan dari narasumber.

“Kita berharap, Webinar ini akan menghasilkan ide dan gagasan besar yang nantinya akan dimuat dalam satu buku atau makalah. Sehingga, narasi ini menjadi naskah akademik yang dapat dijadikan sebagai rujukan, baik akademisi maupun pengambil kebijakan dalam melihat Pandemi,” tutup Prof. Akmal Ibrahim.

Bagikan