Terkini.id, Jakarta – Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Musni Umar mengatakan bahwa di Indonesia, Muslim yang menjadi mayoritas tidak berlaku diskriminatif terhadap minoritas.
Ia membandingkan hal ini dengan situasi di India di mana muslim yang minoritas disebut mendapat perlakuan diskriminatif dari umat mayoritas.
Oleh sebab itu, ia meminta agar orang-orang untuk berhenti menuduh umat Islam intoleran, radikal, dan sebagainya.
“Ini contoh kalau umat Islam minoritas,” kata Musni Umar melalui akun Twitter pribadinya Minggu, 7 November 2021.
“Alhamdulillah di Indonesia yang mayoritas Muslim tidak diskriminatif terhadap minoritas. Berhentilah tuduh umat Islam intoleran, radikal dsb,” tambahnya.
- Pasangan 'Amin' jadi Capres-Cawapres, Musni Umar: Tidak Ada Pengkhianatan, Janganlah Cari Kambing Hitam
- Musni Umar: Patut Menduga Jokowi Gunakan Moeldoko Untuk Ambil Demokrat
- Doakan Ganjar Pranowo Dengar Suara Warga Wadas, Musni Umar: Memihaklah Kepada Rakyat yang Memberi Jabatan
- Tak Percaya Elektabilitas Nasdem Turun Karena Anies Baswedan, Musni Umar: Lembaga Survei Dibiayai Siapa?
- Musni Umar Dihujat Netizen Soal Ponpes Shiddiqiyyah dan BUMN
Dalam cuitan netizen yang dibagikan oleh Musni Umar, dikatakan bahwa Umat muslim Tripura India mendapatkan perlakukan kekerasan dari umat Hindu.
“Keras berupa pembakaran rumah Pembunuhan, pemerkosaan terhadap para wanitanya. Akhirnya ribuan umat Islam Tripura Mengobarkan jihad fisabilillah,” kata netizen tersebut.
Tidak diketahui kebenaran dari video dan narasi netizen tersebut. Namun, sebagaimana diketahui, belakangan ini memang kembali terjadi ketegangan hubungan antar-umat beragama di India.
Pada 28 Oktober 2021 lalu, BBC menulikan bahwa dalam empat hari terakhir, terdapat lebih dari 10 insiden kekerasan agama dilaporkan terjadi di Distrik Tripura Utara.
Sekedar catatan, Umat Muslim di Tripura berjumlah 4,2 juta atau kurang dari 9% total penduduk Tripura.
Dikatakan bahwa polisi melarang pertemuan besar setelah terjadi kerusuhan pada Selasa malam, 26 Oktober di kota perbatasan Panisagar.
Dalam kerusuhan itu, sebuah masjid dan beberapa toko milik warga Muslim dirusak.
Adapun kerusuhan itu terjadi setelah organisasi Hindu garis keras, Vishva Hindu Parishad (VHP), sekutu dekat BJP, menggelar pawai.
Seorang polisi senior di Panisagar, Soubhik Dey mengatakan bahwa ada sekitar 3.500 orang berpartisipasi dalam pawai tersebut.
“Beberapa aktivis VHP yang berpartisipasi dalam aksi tersebut mendobrak sebuah masjid di daerah Chamtilla. Kemudian, tiga rumah dan tiga toko dirangsek, serta dua toko dibakar di daerah Rowa Bazar, sekitar 800 meter dari lokasi insiden pertama,” kata Dey.
Menurut polisi, toko-toko dan rumah-rumah yang dirangsek itu adalah milik umat Muslim dan salah satu dari mereka melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
Seorang pemimpin lokal kelompok Hindu garis keras, Bajrang Dal Narayan Das, mengklaim bahwa beberapa anak muda di depan masjid mencaci mereka dan mengacungkan pedang.
Sementara, Jamiat Ulama-e-Hind yang merupakan organisasi Muslim menuduh massa menyerang masjid dan lingkungan yang didominasi oleh warga Muslim.
Adapun partai-partai oposisi menyalahkan “elemen radikal bermotif politik” yang dekat dengan BJP atas serangan terhadap umat Muslim.
Anggota parlemen dari partai Kongres Trinamul regional, Sushmita Dev mengatakan kepada BBC bahwa baru-baru ini, BJP mencoba menggunakan kekerasan di Bangladesh untuk “mempolarisasi” para pemilih jelang pemilihan di negara bagian itu pada November.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
