Terkini.id, Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, sebelumnya mengungkapkan, banjir dan longsor yang terjadi di Gowa salah satunya disebabkan oleh eksploitasi hutan yang besar di hulu.
Hal itu terlihat dari aliran-aliran sungai di sekitar daerah yang yang terdampak banjir dan longsor.
“Ini adalah gejala alam yang luar biasa, penyebab banjir akibat pendangkalan dan sungai Bili-Bili yang sudah serius untuk ditangani,” ujar Nurdin, kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Pemerintah sendiri memastikan akan melakukan pengkajian dalam mengupayakan konservasi di hulu.
Menurut dia, konservasi perlu dilakukan mengingat Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang sudah sangat kritis.
“Akibat eksploitasi sumber daya hutan di hulu seperti perladangan berpindah, dan sebagainya, sementara lebih cepat pengrusakan hutan daripada upaya konservasi yang dilakukan,” ungkapnya.
Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan sendiri mengungkapkan, kehadiran aktivitas tambang dan perambahan hutan di wilayah Kabupaten Gowa merupakan wewenang Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Meski begitu, Pemkab Gowa juga bakal memberikan dukungan terhadap penertiban perambahan hutan dan tambang liar jika dianggap sebagai penyebab bencana banjir dan longsor.
Bagaimana kondisi hutan di hulu sungai yang menyuplai Bili-bili dan perbandingannya dengan tahun lalu? Berikut foto-foto dari langit di beberapa daerah yang dihimpun terkini.id dari planet.com:
Lonjoboko
Lonjoboko, Juli 2011:

Lonjoboko, Desember 2018:

Parigi
Parigi, September 2012:

Parigi, Januari 2019:

Sapaya
Sapaya, Juli 2011:

Sapaya, 12 Januari 2019:

Bulutana
Bulutana, September 2012:

Bulutana, Oktober 2018:

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
