Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mencapai Rp 2,3 Triliun, Netizen: Ujung-ujungnya Jadi Kecebong

Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mencapai Rp 2,3 Triliun, Netizen: Ujung-ujungnya Jadi Kecebong

R
Caroline Chintia
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengungkapkan adanya kemungkinan lonjakan biaya (cost everrun) terkait proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung. Pembengkakkan biaya diperkirakan mencapai Rp 2,3 triliun yang diambil dari dana pajak dan pengadaan lahan.

“Ada kebijakan di mana PPN berubah dari 10 persen menjadi 11 persen. Ada beberapa penambahan PPN juga pajak untuk biaya yang lain,” ujar Presiden Direktur PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi, pada Selasa, 21 Juni 2022.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

pengadaan lahan untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tidak bisa dilakukan langsung oleh PT KCIC, tapi melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang merupakan konsorsium 4 BUMN.

“Rekomendasi pemerintah waktu itu PSBI sebagai anak perusahaan BUMN bisa melakukan itu, KCIC yang membiayai. Di situ ada mekanisme loan,” ujar Dwiyana.

Baca Juga

KCIS disebut bisa menggunakan lahan yang dibebaskan PSBI dengan skema PSBI meminta penerbitan hak pengelolaan (HPL) kepada negara. Setelah HPL terbit, Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama KCIC.

Setelah berkonsultasi dengan kantor akuntan publik PwC ditemukan munculnya eksposur pajak.

“Bahwa KCIC dengan PSBI ini adalah perusahaan terafiliasi nggak bisa menghindari pajak. Jadi kemungkinan ada potensi tambahan lagi Rp2,3 triliun eksposur pajak atas transaksi itu di mana nanti akan menimbulkan PPN, PPh,” ujar Dwiyana.

Berita tersebut menarik perhatian netizen dan ikut memberikan beberapa komentar terkait lonjakan dana proyek tersebut. Dilansir dari Twitter @CNNIndonesia, berikut beberapa komentar netizen. 

Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mencapai Rp 2,3 Triliun, Netizen: Ujung-ujungnya Jadi Kecebong
Twitter @CNNIndonesia

Komentar dari @TotokSuryoto1 “weleh weleh ujung nya hanya kereta kecebong kereta cepat boong boongan jika benar kereta berteknologi maglev kecepatannya 300km/h track hanya 100 km ora maton… kereta cepat itu minimal track 600 km-1000km semisal Anyes sampai Banyuwangi”

Bahkan beberapa masyarakat sebut apa dampak dari pembangunan kereta api cepat tersebut. Seperti komentar dari @DeddyKusdedi3 “manfaat ekonominya bbrp banyak tuh perekonomian nasional dan dampak multipiernya”

Dan masih banyak komentar lainnya yang sebut pemerintah sebaiknya berfokus pada permasalahan yang lebih urgent di Indonesia.

Pada 2019-2022, biaya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga mengalami pembengkakan biaya sebesar US$2,6 miliar atau setara Rp38,48 triliun (kurs Rp14.800 per dolar AS). Namun, biaya itu berhasil ditekan hingga US$1,675 miliar atau setara Rp24,79 triliun.

“Pada saat kami diminta untuk mengusulkan pada November 2021, kita bisa tekan sampai US$1,675 miliar,” kata Dwiyana.

Ia juga mengungkapkan pembengkakan biaya harus ditinjau oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Berdasarkan hasil tinjauan BPKP saat itu, terjadi pembengkakan US$1,176 miliar.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.