CINTA adalah penyakit, tapi uniknya semua orang tidak ingin disembuhkan. Begitu cerita Anregurutta Dr. KH. Sanusi Baco, Ketua MUI Sulsel, saat silaturahim di kediamannya.
Cinta harus dirawat. Dalam keluarga cinta bertumbuh sakinah, mawaddah wa rahmah dalam bangunan rumah tangga menjadi rumah cinta.
Nuansa Ramadan turut mewarnai harmonisasi dalam keluarga, saat pasangan suami-istri kembali pada perannya masing-masing kala berada di rumah.
Sang suami menjadi imam, kepala keluarga, dan istri serta anak-anak menjadi makmumnya. Betapa sakinahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya dibangun atas taburan cinta. Sekalipun selama ini, rajutan cinta pasangan suami istri tetap terawat, tetapi kadang kala terasa kering di tengah pengapnya kehidupan yang serba praktis dan pragmatis.
Komunikasi suami-istri juga dengan anak-anaknya lebih sering sebatas ujung genggaman handphone, kadang dibumbuhi dengan kebohongan.
Sepanjang Ramadan, rumah tangga kembali menyemai spirit cinta. Hal ini sejatinya menjadi impian semua keluarga, untuk bertahta dalam rumah cinta mereka.
Dalam realitasnya, sejumlah rumah tangga dibangun dengan egoisme masing-masing yang tidak lagi menghadirkan cinta. Penyebabnya beragam, tetapi hampir berujung pada perselingkuhan teman kantor hingga perceraian. Cinta abai dalam kehidupan keluarganya.
Benih-benih kebencian terus tertanam demikian suburnya, sehingga hampir seluruh lahan kehidupan rumah tangganya tak lagi bisa diselamatkan.
Faktanya, ratusan pasangan di semua kabupaten di Sulsel turut antri menanti giliran perceraian mereka diputuskan, semata untuk mendapat status legal, janda atau duda. Ironis tapi demikianlah kenyataan.
Sebagian besar dari angka perceraian itu dilatari faktor ekonomi atau karena pernikahan dini yang belum siap untuk menjalani bahtera rumah tangga. Diyakini, sekiranya cinta masih bersemi, perceraian tidak pernah menjadi kenyataan.
Meningkatnya angka perceraian dipastikan berdampak terhadap anak-anak mereka. Anak yang tumbuh besar dalam keluarga broken home, rumah tangga orang tuanya berantakan akibat perceraian, kelak menjadi generasi yang kehilangan kasih sayang.
Generasi yang dibentuk tanpa cinta dan kasih sayang lebih condong kehilangan rasa simpati dan empati. Kadang menguatkan hati untuk menjalani hari-harinya tanpa kasih sayang, tetapi sesungguhnya galau tanpa orientasi, beruntung jika tidak terjebak dalam perilaku menyimpang yang banyak menjebak remaja belakangan ini.
Menurut Hasan Al-Banna, suatu negara dapat dibangun menjadi baldatun tayyibatun warabbun ghafur jika masyarakatnya merupakan umat yang baik, khairum ummah.
Umat yang baik niscaya lahir dari keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Keluarga sakinah terbentuk dari pribadi yang shaleh dan shalehah yang membangun rumahnya dengan cinta. Kini, sejatinya semua rumah tangga membangun rumah cintanya dengan mawaddah, cinta plus.
Yakni, saling menyempurnakan pasangan dari berbagai kekurangannya atau setidaknya mampu menerima kekurangan pasangannya, sehingga dirinya terhindar dari perselingkuhan, apalagi perceraian yang kini kian mewabah.
Risalah Ramadan perlu ditandai dalam sebuah noktah, rumah cinta. Yakni rumah yang dipenuhi rasa saling mencintai, antara suami istri, juga anaknya. Rumahku adalah surgaku, rumah dalam surgawi cinta. Semoga !
—
Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN Alauddin Makassar
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
