Dakwah 4.0

Dakwah 4.0

EP
Firdaus Muhammad
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

ERA revolusi industri 4.0 menjadi penanda arus globalisasi tidak terbendung disertai kecanggihan teknologi. Era ini menjadi angin segar pengembangan dakwah Islam berbasis digital. Sejumlah ulama, penceramah dan tokoh agama memanfaatkannya.

Prof. Quraish Shihab dan KH. Mustafa Bisri (Gus Mus) dengan mudah kita kases ceramahnya. Demikian juga Ustas Abdul Shomad (UAS) melejit, juga Nissa Sabyan viral dan diakses jutaan pengunjung di youtube.

Kini memasuki era dakwah revolusi industri 4.0. Perkembangan teknologi turut mempengaruhi perilaku manusia. Perkembangan alat komunikasi diantaranya cukup inovatif.

Saat bersamaan sekumpulan orang dapat duduk bersama-sama, tetapi masing-masing sibuk dengan handphone (HP) mereka. Lebih dahsyat lagi, adanya media sosial kian menjebak setiap pemiliknya asyik masyuk dengan HP dalam genggamannya.

Hal ini menjadi fenomena masyarakat yang lahir sebagai generasi melek teknologi, masyarakat generasi millennia.

Baca Juga

Media sosial yang lahir dari rahim media online semisal facebook, instagram, watsAp, dan berbagai aplikasi lain. Kecanggihan telpon genggam tersebut memuat aplikasi yang menyajikan beragam layanan untuk berselancar di dunia maya.

Di sisi lain, perilaku manusia turut dipengaruhi, gaya hidupnya terinspirasi dari kecanggihan teknologi tersebut, bukan sekadar kebutuhan tetapi justru menjadi ikon life style bahkan status sosial.

Kalangan ibu sosialita juga makin aktif “bersilaturahim” melalui facebook, belum lagi anak cucunya. Mencermati pola hidup manusia modern cukup diwarnai dari media sosial. Maka untuk mengembangan aktifitas dakwah, maka pilihan yang tepat, diantaranya melalui medsos.

Perbincangannya ringan dan tanpa kontrol gatekeeper, cukup pertimbangan perasaan dan jaga image semata. Setiap orang dapat berbicara apapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Lebih dari itu, perbincangan yang sifatnya privacy kadang kadang jebol masuk ke ranah publik.

Sekiranya lahir kesadaran kolektif untuk memaksimalkan konten pembicaraan lebih bermuara pada amar maruf nahi mungkar, berdakwah. Persoalan kecil dapat diurai sistematis tanpa kehilangan substansi, sekalipun berbicara dalam laman yang cukup terbatas.

Bayangkan, jika seseorang membuat status atau pesan di Facebook, atau WA dengan nuansa keagamaan. Maka setiap pembaca yang mengikuti laman itu membaca pesan-pesan keagamaan tersebut hingga viral.

Inovasi dakwah melalui media sosial tak terhindarkan. Sesekali saya meyaksikan jamaah tarwih memanfaatkan waktunya di masjid untuk menunggu waktu shalat untuk bertadarus. Sementara ia tidak membawa al-Qur’an melainkan diakses dari HP mereka. Perilaku keagamaanpun bergeser.

“Sampaikanlah walau satu ayat”. Tidak terkecuali menulis pesan keagamaan melalui status di FB, IG, Line dan WA sebagai ikhtiar amar maruf nahi mungkar. Kini jejak digital para ulama dapat diakses secara cepat, anugerah era dakwah 4.0

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.