Cinta Ibu

Cinta Ibu

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

HARI demi hari dijalani sepanjang Ramadan ini. Suatu hal yang paling membahagiakan kala menghadirkan dan meresapi rasa cinta seorang ibu.

Kerinduan pada ibu kian terasa saat menjalani hari-hari penuh berkah di Ramadan. Keinginan mudik makin membuncah. Tetapi ibu yang selalu dirindukan, mungkin tidak hadir bersama-sama, atau masih berada di kampung tempat kita dilahirkan dengan kesederhanaannya. Atau mungkin, kini sang ibu telah tiada.

Cinta dan kasih sayang sang ibu demikian membekas, cinta yang tiada duanya. Sebaran kesabaran dan keikhlasannya dalam mengasuh kita selaku anak, tak terkira.

Masih teringat dengan terang kala ibu membangunkan untuk sahur dengan jiwa mendidiknya, menuntun anak-anaknya untuk menikmati menu kesukaan anak yang disiapkan dengan sebaik mungkin.

Harapannya, setidaknya agar sang anak dapat menyicipi santap sahur yang menurut ulama, makanan penuh berkah. Lalu menuntun anaknya dengan cinta serta mengajarinya berpuasa walaupun setengah hari, sekalipun tidak memenuhi standar syariah, tetapi dimensi edukasinya demikian kuat. Melatih anak berpuasa adalah jasa ibu yang menjadikan kita kini senantiasa menjaga ibadah puasa.

Baca Juga

Menjelang berbuka puasa adalah saat yang paling dinantikan seorang anak, menanti menu sajian sang ibu. Tanpa disadari, sang ibu bangun sejak dini hari untuk mempersiapkan sahur lalu siang ke pasar dan kembali meraciknya untuk berbuka.

Tampak aura kebahagiaan sang ibu kala menyaksikan anak-anaknya berbuka puasa, sekalipun “bocor” pada siang hari. Demikian ibu menanamkan pembelajaran agama yang mengakar disertai rasa kasih sayang.

Kesabaran dan keikhlasan ibu membangun kesadaran beragama sejak dini, kini nyaris tak terwarisi. Cara ibu modern di perkotaan dengan status sebagai wanita karir acapkali mengabaikan dimensi pendidikan agama anak melalui ibadah puasa.

Karenanya dengan mengenang jasa ibu dalam mendidik, patut direnungkan kembali demi melahirkan generasi yang berkarakter.

Allah meminjamkan namanya untuk ibu yakni rahim, pengasih, penyayang, pencinta abadi. Dari tubuh ibu bertahta cintanya yang abadi untuk anak-anaknya. Momentum Ramadan ini menjadi titik balik untuk mengenang cinta seorang ibu, digerakkan hati untuk senantiasa mendoakannya setiap saat terutama setiap usai shalat lima waktu. Tidak terkecuali, bersedekah atas namanya kala ibu telah tiada.

Bersilaturahim dengan ibu sejatinya menjadi agenda untuk senantiasa dirajut demi merawat cinta anak dan ibu. Sorga di bawah telapak kaki ibu, demikian Rasulullah Saw senantiasa mengangungkan cinta sang ibu sebagai pintu surga seorang anak.

Tidak dipungkiri, diusia sang ibu yang makin menua acapkali membutuhkan perhatian sang anak, namun kadang sulit memenuhinya dengan berbagai alasan, padahal sekiranya seorang anak memiliki cinta selaksa cinta ibu, tentunya segenap cinta kita curahkan kepadanya dengan alasan karena aku adalah anak Ibu, begitu penggal puisi abah D. Zawawi Imron !

Firdaus Muhammad

Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi

UIN Alauddin Makassar

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.