Nasihat Pak Tua

Nasihat Pak Tua

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

SEORANG pengusaha sukses mengelar buka puasa. Tradisi yang tidak lazim, misalnya, pengusaha itu menginginkan acaranya digelar lesehan yang mencerminkan kebersamaan dan kesederhanaan. Lalu beliau secara spontan mengajak sejumlah tokoh duduk lesehan berbuka puasa, padahal panitia siapkan ala prasmanan. Panitia segera menyiapkan menu yang disuguhkan di atas karpet dialasi Koran. Menu disajikan dengan  tradisi tudang sipulung di kampung, suasana hikmat penuh kebersamaan kian terasa disusupi candaan.

Sang pengusaha berpesan dalam acara tersebut, kebersamaan dan optimisme itu sebagai modal untuk membangun usaha, lebih utama dari itu, menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya agar dapat memberi manfaat dengan memberdayakan masyarakat. Prioritasnya, mempekerjakan ratusan hingga ribuan karyawan dalam berbagai lini usaha, semata untuk menyebar kebaikan dan manfaat dengan keyakinan, manusia terbaik yang bermanfaat bagi orang lain.

Keuntungan bisnis menjadi agenda lain, asal memiliki manfaat pada orang lain. Kisah yang memantik perhatian penulis, ihwal sisi religiusitasnya, seorang pengusaha muslim itu, kala menyitir sejumlah ayat al-Qur’an dalam sambutannya disertai suguhan tuturan kisah beliau bersama seorang tua di kota Palu beberapa waktu silam. Kisahnya, seseorang yang sudah uzur tiba-tiba menasehatinya dengan sejumlah pertanyaan yang juga mengandung pernyataan. Pak tua berseloroh, untuk apa selama ini mengajarkan bahasa asing di sekolah-sekolah, tetapi kenapa tidak mengajarkan Bahasa Arab sejak dini, terutama di sekolah dasar.

Pak Tua kembali bertanya, berapa banyak anak sekarang yang faseh mengaji sekaligus memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacanya. Bagaimana menuntut seseorang taat beragama sementara mereka tidak memahami ajaran agama secara benar, dimulai dari al-Qur’an. Seketika itu, sang pengusaha tersentak lalu membenarkan ucapan-ucapan dalam sejumlah pertanyaan dari Pak Tua.

Ia kian terkesima dengan pertanyaan dan pernyataan itu, bahkan “kehilangan” feeling sebagai sosok elite yang sukses untuk bertanya tentang sosok orang tua tersebut, saya tidak sempat lagi bertanya siapa namanya karena menjadi tidak penting dan terkesima dengan pesan-pesan pak Tua tadi. Cerita di kalangan koleganya, ia justru berseloroh, mungkin pak tua itu “diutus” untuk menguatkan saya dengan kearifan-kearifan melalui penguatan keilmuan, khususnya pemaknaan dan pemahaman agama yang berpijak pada al-Qur’an.

Betul, ada yang berbeda dari pengusaha itu. Sebelumnya, setiap menyimak pembicaraannya, pasti selalu berputar pada ranah bisnis. Namun kali ini beda, beliau sepenuhnya bicara agama. Ia mengenang masa kecilnya di kampung, kala itu nilai-nilai agama ditanamkan demikian kuat sehingga diharuskan menempuh pendidikan saat masih berusia beliau, belajar pagi di sekolah negeri, lalu sore harinya belajar agama di “sikola Ara”, sekolah Arab atau madrasah yang didirikan kakeknya.

Benar, tittah dari pak tua, untuk mengenal agama secara baik diikuti perbaikan akhlak, maka kuncinya mengenalkan bahasa al-Qur’an untuk memahami kandungan maknanya untuk pengamalan keagamaan sehari-hari, yakni dimulai dengan belajar Bahasa Arab.

Benar kata pak Tua, mendalami agama dimulai dari Bahasa Arab untuk memahami al-Qur’an sebab Allah Swt menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi untuk memahami pesan-pesan ilahi dari kitab yang merupakan hudan lil-annas. Terkadang kita harus mudik pulang kampung untuk merajut kearifan-kearifan leluhur, merindukan nasihat pak tua seperti dialami sang pengusaha !

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.