Terkini.id, Makassar- Ada isu krusial di Koran Kompas edisi Rabu, 29 Januari 2020, mengulas Kerusakan Lingkungan, Reklamasi Makassar, Petaka Galesong ditulis oleh Reny Sri Ayu.
Hal ini didasari atas berdirinya sebuah kawasan elit yang diberi nama kawasan Center Point of Indonesia (CPI) dimana kawasan tersebut menjadi ikon baru Kota Makassar. Lokasinya sendiri berada di Pantai Losari dibangun di atas lahan reklamasi. Ironisnya sebagian warga pesisir di Kabupaten Takalar justru terimbas reklamasi tersebut.
Ririn (35) asyik bermain bersama 2 anak balitanya di pelataran di sekitar Masjid 99 kubah di kawasan Center Point of Indonesia atau CPI, 17 Januari 2020 sore.
Area ini menjadi fasilitas umum, selalu ramai pengunjung yang ingin bersantai, selain murah lokasi ini menjadi ajang olahraga, seperti berlari bersepeda dan arena serupa dengan pesisir laut, pengunjung bisa melihat kota Makassar di seberang.
Ririn Ekawati (35) salah seorang warga setempat, mengatakan kepada Reny Sri Ayu, lumayan untuk tempat anak-anak bermain, karena areanya luas, dapat tempat bersantai di tengah kota tentu lumayan apa lagi masuknya gratis.
- Aliyah Mustika Ilham Dukung Program BPJS Kesehatan Masuk Kampus di Unhas
- Harumkan Makassar dan Sulsel, Murid SMP Al Biruni Ikuti Lomba ALOHA Tingkat Dunia di Panama
- PMSM Sulsel Ajak Praktisi HR Bangun Kepemimpinan Berbasis Coaching
- Hari Hemofilia Sedunia 2026, RSUP Wahidin Tekankan Deteksi Dini dan Akses Perawatan
- Ratusan Da'i Muda Muhammadiyah Sulsel Dikukuhkan, Siap Isi Ruang Dakwah
Reni menuliskan Kawasan CPI memang memanjakan mata, pengunjung yang memasuki kawasan ini akan disajikan pemandangan berbeda. Ada Tugu bola dunia. Di Kawasan itu ada pula jembatan dengan desain futuristis yang mengadopsi bentuk atap rumah Toraja, Gedung Wisma Negara, Masjid 99 kubah unik berwarna orange.
“Kemudian dari 157 hektar luas kawasan reklamasi CPI. 50 hektar diantaranya milik pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan pertumbuhan ekonomi baru di Makassar ini bakal dilengkapi pemukiman elit dan sarana penunjang seperti kampus,” ulas Reni dalam harian kompas halaman 11.
Mirisnya, pemandangan di CPI kontras dengan terlihat kawasan pesisir desa Bulungan Galesong Utara selatan sekitar 19 kilometer Selatan Makassar. Kawasan ini di landa abrasi parah, yang dipicu pengerukan pasir laut untuk reklamasi kawasan CPI dan Makassar New Port (MNP).
Reni menuliskan, 2 tahun terakhir abrasi menggerus luas daratan sejauh 10-15 meter. Sebagian rumah warga ambruk, sebagian lagi rusak parah. Musim barat kali ini menjadi bayang-bayang petaka bagi warga, gelombang laut demikian kuat menggerus daratan.
Dampaknya sangat luar biasa, warga pun tak nyenyak tidur, dan sebagian mengungsi. Jumiati Daeng Lu’mu (65) tahun perempuan yang tinggal bersama anak, menantu dan cucu ini baru saja berbahagia, rumah tuanya yang reyot direnovasi dengan bantuan pemerintah setempat.
Naas, belum lagi rumah tersebut rampung dibangun abrasi mendera. Akibatnya rumahnya tinggal berjarak 2 meter dari garis pantai. Abrasi telah menggerus sejauh lebih dari 10 meter. Kini Jumiati harus mengungsi.
Jumiati Daeng La’muru mengatakan sangat khawatir tidur di rumah, apalagi di malam hari. Ini sedang musim barat, ombak dan angin kencang, belum lagi kalau hujan. dirinya hanya berani ada di rumah pada waktu pagi hingga sore hari.
Sementara hal serupa dialami Sahar Daeng Ngalle (80), di Desa Tamassaju, Galesong. Setiap malam ia mengungsi ke rumah saudaranya. Abrasi pantai telah sampai fondasi dinding belakang rumahnya.
“Sejak tahun lalu, saat garis pantai masih berjarak 5 meter dari rumah, setiap musim barat saya sudah mengungsi. Tetapi beberapa waktu belakangan ini, keadaan bertambah parah. Lebih dari 3 meter yang tergerus dalam beberapa hari dan sudah sampai di batas rumah saya,” demikian tutur Sahar Daeng Ngalle kepada penulis, Reni Sri Ayu.
Abrasi di pesisir Takalar memang disebabkan maraknya tambang pasir laut, berharap ada solusi dari Pemerintah setempat terkait abrasi.
Selengkapnya silahkan membaca koran Kompas, edisi Rabu 29 Januari 2020.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
