“Kalau tidak ada uangnya, mau bayar pakai apa?” tanya Danny dengan nada prihatin.
“Ini hak kami yang sudah masuk dalam neraca. Jika tidak dibayarkan, 7.000 Laskar Pelangi harus dievaluasi.”
Ia menambahkan bahwa meski ada indikasi pembayaran tambahan untuk tiga bulan lagi, itu tidak cukup untuk menutupi kekurangan yang ada.
“Laskar Pelangi adalah ciptaan saya, karena tidak diperkenankan lagi ada honor yang ditanggung APBN. Tanpa kepastian dana, program ini sulit untuk dilanjutkan.”
Proyek Tertahan dan Masa Depan yang Suram
- Di Business Forum IGS 2026, Wali Kota Makassar Akan Tawarkan Peluang Investasi Strategis
- Bedah Buku Ajoeba Wartabone Hidupkan Kembali Semangat Perjuangan Tokoh Bangsa dari Indonesia Timur
- Welcome Dinner IGS 2026 di Fort Rotterdam, Wali Kota Munafri Ajak Delegasi 28 Negara Mengenal Potensi Makassar
- Munafri Arifuddin: Makassar Siap Jadi Gerbang Kerja Sama Internasional Kawasan Timur Indonesia
- Wakil Gubernur Dukung Perluasan Program RISE untuk Perkuat Sanitasi Berkelanjutan di Sulsel
Selain isu Laskar Pelangi, Danny juga menyoroti proyek-proyek besar yang terhambat selama masa cutinya menjelang pemilihan kepala daerah.
“Waktu saya cuti, tidak ada yang dibelanjakan sama sekali. Proyek besar seperti tidak diberikan jalan,” katanya, sembari menolak menyalahkan Kementerian Dalam Negeri.
Gagasan Besar di Persimpangan
Laskar Pelangi, bagi Danny, adalah simbol inovasi dalam pelayanan publik di Makassar. Namun, tanpa dukungan anggaran yang memadai, inovasi ini bisa menjadi kenangan masa lalu.
Danny berharap, pemerintahan selanjutnya dapat melanjutkan langkah progresif ini, memastikan Makassar tetap menjadi panutan di level nasional maupun global.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
