Di Tengah Pandemi, Kenangan Bersama Bapak Terkubur Abadi Selamanya

Di Tengah Pandemi, Kenangan Bersama Bapak Terkubur Abadi Selamanya

R
Subhan Riyadi
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar-Innalillahi wa inna ilahi roji’un, telah berpulang bapak dari penulis yang kemarin dirawat di RS Soeroto Ngawi Jawa Timur. Kamis dini hari malam Jumat. Pukul 00.51 WIB. Di Makassar berarti sekitar pukul 02.00 WITA pagi. Jumat, 5 Juni 2020 yang bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia.

Alm. Bapak meninggal di usia 74 tahun karena komplikasi sakit gula, tensi darah, jantung serta susah bernafas. Bapak atau mbah kyai (orang sekitar rumah menyebutnya demikian) meninggalkan seorang istri, 6 orang anak, dan belasan orang cucu.

Di tengah pandemi covid-19 ini, kenangan bersama bapak terkubur selamanya. Penulis di Makassar dan adik-adik di Palembang, Kalimantan berduka merasa kehilangan akan sosoknya. Hanya adik dari Bogor sebagai perwakilannya.

Selama di Rumah Sakit Ngawi tidak bisa mendampingi sisa hidupnya. Yah lagi-lagi wabah Covid-19 dan anjuran larangan mudik dari Pemerintah Pusat maupun Daerah.

Sebagai anak sulung (pertama), merasa sangat bersalah atas meninggalnya mbah yai, sebab tidak pernah ada mendampingi di sisa hidupnya. Dan itu bukan tanpa sebab musababnya.

Baca Juga

Bapak sebagai orang yang sangat baik. Ia baik sebagai seorang laki-laki muslim, guru mengaji, suami, bapak, dan kakek. Penulis bersyukur memiliki bapak yang banyak memberi nasehat.

Ada banyak kenangan bersama bapak yang melekat kuat dalam ingatan hingga hari ini. Tak cukup kata untuk menguraikan semuanya. Yang jelas, bapak adalah sosok bapak yang humoris, kepada siapa saja gemar bercanda, dan sangat ramah. Semua tentang bapak terasa menyenangkan dan enak untuk diingat.

Jika sedang cuti menginap di rumah bapak di Desa Kandangan Kabupaten Ngawi Jawa Timur, penulis selalu mendengar suara bapak mengumandangkan adzan, memimpin sholat lima waktu maupun sunnah, membaca Alquran, tiap hari seusai salat, maupun memimpin undangan pengajian di kampung.

Kecuali kecapekan atau pergi keluar kota melihat anak cucunya, digantikan oleh salah satu jamaahnya.

Hal lain yang menyenangkan dari mbah kyai, setiap jatuh pasaran Legi. Kami berjalan kaki ke pemakaman keluarga di Desa Ploso Rejo Ngawi, setelah dirasa cukup melanjutkan perjalanan ke pasar Legi, di Ngawi pasar legi dikenal sebagai pasar hewan yang buka setiap Legi.

Bukan untuk membeli sapi atau kambing, melainkan menyantap sate dan gulai kambing khas pasar Legi Ngawi di temani berbagai ekor sapi serta kambing, sembari menunggu penawaran dari si blantik (juragan).

Sebuah kebiasaan baik yang tidak penulis miliki. Sejak dulu sampai ajal menjelang. Bapak selalu salat 5 waktu di masjid depan rumah, dan itu diikuti oleh para jamaahnya, selain itu bapak juga mengajar ngaji di Masjid Baitul Muttaqin Kandangan Ngawi Jawa Timur.

Terima kasih pak sudah menjadi orang tua yang paling baik untuk anak-anak dan cucu-cucunya. Masih banyak lagi kenangan untuk diuraikan pada media digital ini.

Melalui ibu, bapak berpesan kepada anak-anaknya yang tidak bisa pulang untuk sebisa mungkin melaksanakan salat gaib di masjid sekitar tempat tinggal. Alhamdulillah, Allah SWT memberi kemudahan dengan terlaksananya wasiat tersebut. Khusus di Perumahan BPS dua masjid sekaligus melaksanakan salat gaib.

Penulis mengucapkan terimakasih yang terhingga kepada Ketua RW 10 Perumahan Bumi Permata Sudiang, pengurus Masjid Babussalam dan Masjid Nurul Falah serta jamah yang telah melaksanakan salat gaib.

Selamat jalan pak, istirahatlah dengan tenang, semoga Khusnul Khatimah berada di surga Arsy-NYA, nanti disana kita berkumpul dalam singgasana terakhir yang penuh kebahagiaan abadi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.