Dialog Serigala dan Anak Domba

SEPANJANG sejarah selalu terberita hubungan antara penguasa dan mereka yang dikuasainya, yang memprihatinkan.

Gejala ini terlihat oleh Aesop, pendongeng ulung dari Yunani. Ia memberikan kritiknya lewat sebuah dongeng.

Pada suatu ketika, seekor serigala mondar-mandir di sebuah mata air di puncak sebuah bukit. Ia sedang kelaparan.

Matanya tiba-tiba menangkap hadirnya seekor anak domba di tempat yang lebih rendah ke mana air mengalir.

Itulah kesempatan baginya untuk mengisi perutnya yang sedang kosong. Tetapi, ia tidak mau tampak tidak adil di mata korbannya. Perlu ada alasan yang membenarkan tindakannya. Terjadilah dialog berikut.

Menarik untuk Anda:

• Serigala: Mengapa kamu mengeruhkan air yang hendak kuminum?

• Anak domba: Bagaimana mungkin saya mengeruhkannya? Air ini mengalir dari arahmu berada.

• Serigala: Saya mengenalimu. Kamu yang mengejekku setahun lalu di tempat ini dengan berbagai ujaran kebencian.

• Anak domba: Mana mungkin? Setahun yang lalu saya belum lahir.

• Serigala: Peduli amat. Kalau bukan kamu, pasti bapakmu. Kalau bukan bapakmu, pasti kakekmu.

(Diangkat kembali dari W.I.M. Poli, “100 Petuah dari Yunani; Bercakap dengan Dunia Realis Aesop;” 2018: 114-115).

Renungan: Tidak sukar mencari alasan oleh pihak yang kuat untuk membenarkan tindakannya terhadap pihak yang lemah

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

New Normal itu Bukan “Old Normal”

Menikah di Era New Normal

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar