Cerita tentang ‘Selamatan’ yang Dikisahkan Dubes Amerika

“KISAH sekitar Selamatan” ini diangkat dari kesaksian Howard Palfrey Jones, duta besar AS di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Kisahnya dikemukakan di dalam bukunya, “Indonesia: The Possible Dream” (1971: 13-14). Berikut ini ringkasan penuturannya:

“Selamatan” dalam tradisi Jawa, adalah pertemuan sejumlah orang di mana diadakan acara makan-minum, yang dipercaya dihadiri juga oleh arwah para leluhur.

Kehadiran para arwah memberikan jaminan keselamatan kepada para anggota keluarga yang mengadakan sebuah hajatan, misalnya memasuki rumah baru.

Jones menceritakan pengalaman seorang dari dunia film Amerika Serikat, bernama William E Palmer.

Palmer, yang mempunyai vila di Puncak, meminta kontraktornya mendirikan sebuah kolam renang.

Setelah selesai, ternyata air kolamnya mengering, tanpa diketahui penyebabnya.
Kontraktor dipanggil untuk memulai konstruksinya kembali. Kembali airnya mengering.

Diulangi lagi. Mengering lagi. Karena kehilangan akal, Palmer menanyakan pendapat seorang pembantu rumah-tangganya.

Saran sang pembantu: minta bantuan seorang haji. Walaupun tidak masuk akalnya, Palmer mendatangkan juga sang haji, yang dipandang masyarakat sekitar sebagai “orang pintar.”

Setelah bersamedi, sang orang pintar menyimpulkan bahwa ada arwah seorang kerdil yang marah, karena pendirian kolam renang itu tidak disertai upacara “selamatan.”

Sarannya: (1) adakan upacara “selamatan;” (2) korbankan empat ekor ayam, dan kepalanya ditanamkan di empat sudut kolam renang.

Saran dilaksanakan Palmer antara percaya dan tidak percaya. Hasilnya, menurut catatan Jones: “There was no further trouble; ten years later it was still as good as new” (hal.14). Tidak ada masalah lagi dengan kolam renangnya; sepuluh tahun kemudian tampaknya kolamnya masih baru seperti pada awalnya.

Renungan: Apa artinya rasional? Rasional menurut siapa? Di mana posisiku?

Berita Terkait