Masuk

Dokter Sunardi Teroris Ditembak Mati, Guntur Romli: Lebih Baik Teroris Mati Daripada Petugas Densus 88

Komentar

Terkini.id, Jakarta Dokter Sunardi teroris yang baru-baru ini tertangkap, ditembak mati oleh Densus 88.

Sunardi merupakan seorang dokter yang diduga menjadi bagian dari jaringan teroris Jamaah Islamiyah.

Setelah penembakan ini terjadi, banyak polemik yang muncul terkait proses penembakan yang dianggap tidak sesuai prosedur.

Baca Juga: Guntur Romli Sentil AHY Soal G20: Dia ini Dangkal Komennya

Guntur Romli memberikan pendapatnya melalui kanal Youtube CokroTV yang diunggah pada Senin, 14 Maret 2022.

“Ada yang tanya: Sunardi, baru tersangka teroris kok ditembak mati?” ujar Guntur sebagai pembuka dalam video tersebut.

“Iya karena melawan. Coba menyerah saja, dia pasti selamat. Lagian kenapa dia kabur dan berusaha melawan, artinya Sunardi pasti merasa bersalah. Kalau yakin tidak bersalah, tentu tidak akan kabur dan melawan kan?” Guntur melanjutkan.

Baca Juga: Guntur Romli Sindir Buzzer Anies, Capres Nasdem Itu Dianggap Caper ke Gibran Buntut Tak Dapat Restu dari Jokowi

Menurut Guntur, dalam kondisi darurat hanya ada pilihan rakyat sipil yang mati, petugas polisi yang mati, atau teroris yang mati?

“Yang cinta NKRI pasti memilih lebih baik teroris yang mati,” paparnya.

Menjawab dari banyaknya pertanyaan terkait alasan Sunardi ditembak mati, Guntur Romli melanjutkan dalam video tersebut.

“Kita bisa jawab dengan pertanyaan pula: emang bisa teroris ditembak pakai bunga? Kalau mereka diberi bunga, langsung bertekuk lutut dan menyerah begitu?” lanjutnya.

Baca Juga: Guntur Romli, 5 Alasan Koalisi Anies Baswedan Gagal Deklarasi

“Lagian dia ditembak karena melawan. Padahal teroris-teroris yang lain yang ditangkap tidak ada yang ditembak, apalagi ditembak mati kalau tidak melawan dan membahayakan,” Guntur melanjutkan.

Awalnya Sunardi dihadang dan diberhentikan oleh petugas. Bukannya menyerah, Sunardi justru melawan petugas dan menabrakkan mobilnya.

Kejadian tersebut menyebabkan kendaraan milik warga sipil ikut menjadi korban.

Dokter Sunardi tak hanya membahayakan nyawa warga sipil, namun juga petugas densus 88 yang saat itu tengah berusaha untuk menangkap Sunardi.

Lantas kejadian tersebut menimbulkan pilihan daripada petugas densus 88 atau warga sipil yang mati, lebih baik teroris yang mati.

“Mobil Sudah menyerempet dan menabrak mobil-mobil warga sipil dan sepeda-sepeda motor. Benar-benar nekat dan mengancam keselamatan orang banyak,” jelas Guntur.

“Pilih mana, masyarakat sipil yang mati ditabrak Sunardi, atau petugas polisi terlempar dari mobilnya dan mati, atau Sunardi? Kalau saya jelas, lebih baik Sunardi yang mati,” Guntur melanjutkan.