dr Lois Sebut Kematian Covid Akibat Interaksi Obat, Ahli Farmasi: Tidak Berdasar

dr Lois Sebut Kematian Covid Akibat Interaksi Obat, Ahli Farmasi: Tidak Berdasar

Achmad Rizki Muazam
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – dr Lois Owien yang baru saja ditangkap, sebelumnya melalui akun twitternya, menyangkal kematian akibat Covid-19.

Dia menyebut sekitar 60 ribu orang yang dinyatakan meninggal akibat Covid-19, bukan karena virus corona itu sendiri. Melainkan, meninggal disebabkan efek interaksi obat yang digunakan dalam terapi Covid-19.

Diketahui bahwa dr Lois juga pernah diundang ke acara talkshow di televisi untuk mengutarakan klaimnya itu. Namun, belakangan juga diketahui, IDI menyebut keanggotaannya sebaga dokter sudah kadaluwarsa, dan namanya pun tidak terdaftar di laman Konsil Kedokteran Indonesia.

“Interaksi antar obat. Kalau buka data di rumah sakit, itu pemberian obatnya lebih dari enam macam,” ujar Lois dalam acara talkshow di stasiun televisi swasta.

Menanggapi klaim dr Lois itu, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati mengatakan bahwa interaksi obat tidak semudah itu menyebabkan kematian pada pasien.

“Jadi, jika ada yang menyebutkan bahwa kematian pasien COVID adalah semata-mata akibat interaksi obat, maka pernyataan itu tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Zullies, seperti dikutip tirto pada Senin, 12 Juli 2021.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa interaksi obat adalah adanya pengaruh suatu obat terhadap efek obat lain ketika digunakan secara bersamaan kepada seorang pasein.

Menurutnya, efeknya bisa meningkatkan efek farmakologi suatu obat yang itu bisa berdampak sinergis atau aditif; mengurangi efek obat lain; dan meningkatkan efek yang tidak diinginkan dari obat yang digunakan.

Namun, melansir tirto, Zullies pun menegaskan, tidak semua kombinasi obat-obatan akan menimbulkan efek interaksi obat yang signifikan.

“Karena itu, sebenarnya interaksi ini tidak semuanya berkonotasi berbahaya, ada yang menguntungkan, ada yang merugikan. Jadi tidak bisa digeneralisir, dan harus dikaji secara individual,” tegas Zullies.

Selain itu, menurut Zullies, Covid-19 adalah penyakit yang unik sebab gejala yang dialami bisa bermacam-macam. Pada gejala sedang dan berat, penderitanya penderitanya bisa mengalami peradangan paru, gangguan pembekuan darah, hingga gangguan pencernaan.

Karenanya, di samping vitamin dan anti-virus untuk meredam virus itu sendiri, sangat mungkin dibutuhkan beberapa jenis obat-obatan untuk mengatasi gejala-gejala yang dialami.

“Justru jika tidak mendapatkan obat yang sesuai, dapat memperburuk kondisi dan menyebabkan kematian. Dalam hal ini, dokter tentu akan mempertimbangkan manfaat dan risikonya dan memilihkan obat yang terbaik untuk pasiennya. Tidak ada dokter yang ingin pasiennya meninggal dengan obat-obat yang diberikannya,” ungkap Zullies.

Sekali lagi, dia menegaskan bahwa dampak interaksi obat tidak bisa digeneralisir dan harus dilihat kasus demi kasus secara individual.

“Jadi, interaksi obat tidak semudah itu menyebabkan kematian,” tutup Zullies.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.