Prediksi 100.000 Kematian Corona Usai Event, WHO: Pada saat Api Olimpiade Padam 8 Agustus!

Terkini.id, Jakarta – Prediksi 100.000 kematian corona usai event, WHO: Pada saat Api Olimpiade Padam 8 Agustus! Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, memprediksi akan ada 100 ribu kematian baru lantaran virus corona atau Covid-19 di dunia dari saat ini hingga gelaran atau event Olimpiade Tokyo berakhir pada 8 Agustus 2021 mendatang.

“Pada saat api Olimpiade padam tanggal 8 Agustus, lebih dari 100 ribu orang akan meninggal,” ungkap Tedros dalam acara pra pembukaan Olimpiade Tokyo, sebagaimana dilansir di situs resmi WHO, Rabu 21 Juli 2021.

Dalam pidatonya, seperti dilansir dari rri.co.id, Kamis 22 Juli 2021, ia juga mengatakan saat ini sudah lebih empat juta orang yang meninggal akibat infeksi Covid-19.

Baca Juga: Meski Indonesia Memasuki Masa Endemi Covid-19, Masker Tetap Wajib Digunakan...

Menurut Tedros, banyak orang di dunia sakit dan lelah lantaran Covid-19. Mereka juga muak karena mata pencaharian mereka terenggut akibat pandemi.

“Muak dengan penderitaan yang ditimbulkan, muak dengan pembatasan dan gangguan. Muak dengan kekacauan terhadap ekonomi dan masyarakat. Muak dengan awan gelap yang menutupi masa depan kita,” imbuh Tedros.

Baca Juga: Jokowi Izinkan Buka Masker di Ruang Terbuka, Fadel ke Masyarakat:...

Selama 19 bulan pandemi, sambung Tedros, kondisi dunia lebih parah ketimbang tahap awal gelombang infeksi Covid-19.

“Ini tragis,” tegasnya.

Tedros juga menyoroti program vaksinasi, yang diungkapkannya meski sudah menginjak tujuh bulan, tetapi masih ada yang kesulitan mendapat vaksin, terutama negara-negara miskin. Tedros selanjutnya menggambarkan hal itu dengan kobaran api yang disiram.

Baca Juga: Jokowi Izinkan Buka Masker di Ruang Terbuka, Fadel ke Masyarakat:...

“Jika Anda hanya menyiram satu bagian saja, sisanya akan tetap menyala. Bara dari satu api dapat dengan mudah memicu kobaran api lain yang lebih ganas di tempat lain,” katanya.

Baginya, vaksin merupakan alat yang ampuh dan penting. Namun, dunia belum menggunakannya dengan bijak.

Alih-alih dikerahkan secara luas untuk meredam pandemi, vaksin itu hanya berputar di tangan segelintir orang yang beruntung, untuk melindungi orang-orang paling istimewa, termasuk mereka yang berisiko paling rendah.

“Sementara yang paling rentan, tidak terlindungi,” bebe Tedros.

Berdasarkan data WHO, sekitar 75 persen vaksin telah diberikan hanya di 10 negara. Di negara-negara berpenghasilan rendah, hanya satu persen orang yang sudah menerima setidaknya satu dosis.

Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara berpenghasilan tinggi, yang tercatat setengah dari populasinya sudah divaksin.

“Kegagalan global untuk berbagi vaksin, tes, dan perawatan termasuk oksigen memicu pandemi menjadi dua jalur. Yang kaya membuka diri, sementara yang miskin terkunci,” tegas Tedros.

Semakin berlarutnya ketidaksesuaian itu berlanjut, sebut Tedros, maka kian lama pandemi akan berlangsung, begitu pula gejolak sosial dan ekonomi yang ditimbulkannya.

“Semakin banyak transmisi, semakin banyak varian akan muncul dengan potensi yang lebih berbahaya dari Delta,” imbuhnya.

Di tengah kekacauan ini, Tedros mengatakan WHO menargetkan setiap negara telah memvaksin penduduknya hingga 70 persen pada pertengahan 2022.

Bagikan