Gegara Risma Marah Besar di Tuban, Bupati: Usut Bansos Macet Sebulan

Gegara Risma Marah Besar di Tuban, Bupati: Usut Bansos Macet Sebulan

Effendy Wongso
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Tuban – Gegara Risma marah besar di Tuban, Bupati: usut bansos macet sebulan. Menteri Sosial Tri Rismaharini marah besar usai mendapati bantuan pangan non tunai (BPNT) atau program sembako hanya dicairkan dua bulan, dari yang seharusnya tiga bulan.

Menyusul hal itu, Bupati Tuban, Jawa Timur Aditya Halindra Faridzky mengaku akan melakukan evaluasi pasca ditegur Risma.

“Segera saya akan evaluasi dan tindak lanjuti. Insyaallah, secepatnya akan saya evaluasi,” terang Aditya kepada wartawan di Tuban, Senin 26 Juli 2021.

Seperti dilansir dari CNNIndonesia, Senin 26 Juli 2021, Aditya sendiri mengaku baru mengetahui pencairan BPNT di wilayahnya saat kunjungan Risma. Hal itu lantaran ia baru saja resmi dilantik dan menjabat menjadi Bupati Tuban selama sebulan.

Seperti diketahui, Aditya Halindra Faridzky dan wakilnya Riyadi dilantik Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada 20 Juni 2021 lalu.

Terkait hal itu, Aditya tidak mau gegabah berasumsi dan menduga apa yang terjadi di balik pencairan yang bansos yang tidak sesuai tersebut, apalagi sampai membawanya ke jalur hukum. Ia memilih akan mengevaluasi kinerja jajarannya terlebih dulu.

“Saya baru saja dilantik satu bulan, dan (pencarian BPNT hanya dua bulan) baru ditemukan sama Bu Menteri (Risma). Jangan menduga-duga dulu, saya akan evaluasi pemerintahan saya,” imbunya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (Dinsos P3A) Tuban, Eko Julianto mengaku tidak punya niatan untuk memotong bansos BPNT untuk keluarga penerima manfaat (KPM).

Ia mengatakan, BPNT dari pusat memang telah dialokasikan kepada KPM untuk tiga bulan yaitu Juli, Agustus, dan September 2021.

Namun setelah ada rapat tim BPNT, penyerahan tersebut disepakati dilakukan dua bulan terlebih dulu. Hal itu, sebut Eko, semata lantaran pihaknya ingin menjaga stok kebutuhan masyarakat.

“Kami tidak ada niatan apa pun. Kami ingin menjaga stok kebutuhan masyarakat tepat sasaran,” ujarnya kepada wartawan, Minggu 25 Juli 2021.

Eko mengatakan, pihaknya khawatir jika pencairan langsung dilakukan untuk tiga bulan, maka masyarakat justru akan menjual bahan pangan yang mereka dapatkan, dan uangnya digunakan bukan untuk kebutuhan pokok.

“Kami khawatir nantinya (bahan pangan) dijual, dan (uangnya) tidak digunakan untuk kebutuhan pokok,” jelasnya.

Alasan lainnya, pihaknya juga khawatir bansos berupa pangan seperti beras, tempe, dan telur menjadi rawan rusak jika diserahkan dalam jumlah tiga bulan secara langsung.

Pada dua bulan ini, KPM program BPNT di Tuban mendapatkan dua paket beras masing-masing seberat 15 kilogram. Kemudian mendapatkan telur setiap bulan senilai Rp 26 ribu dan tempe seharga R p9 ribu.

“Kalau sekaligus tiga bulan, maka komoditas telur dan tempe rawan rusak,” imbuh Eko.

Seperti dilaporkan, saat ini sisa uang bansos satu bulan itu masih terdapat di rekening pemegang kartu keluarga sejahtera (KKS) milik keluarga penerimaan manfaat program BPNT.

Lalu, soal pencairan bansos satu bulan yang tersisa, pihaknya pun masih berkoordinasi dan menunggu arahan selanjutnya dari Bupati Tuban.

Risma sebelumnya diketahui memarahi Eko ketika blusukan di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban, Jawa Timur pada Sabtu 24 Juli 2021. Risma marah lantaran mendapati Bansos BPNT atau program sembako hanya dicairkan dua bulan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.