Ikhlas

Ikhlas

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

JUJUR dan ikhlas bagian penting yang diajarkan melalui ibadah puasa. Berbuat ikhlas semata karena Allah, berat. Banyak godaan, mereka yang ibadahnya baik kadang digoda untuk sombong, menjadi tidak ikhlas.

Bersedekah jika disebut namanya lahir ujub, jika tidak sebut namanya, ada godaan ingin diketahui bahwa itu dirinya. Begitu muslihat iblis mempengaruhi manusia sehingga lahiriahnya baik, niatnya tidak, ada tujuan lain.

Maka puasa hadir menjadi madrasah, sekolah untuk mengasah keikhlasan, berbuat semata karena Allah. Seperti kita mafhum, kunci beribadah bernilai pahala atau sia-sia tergantung pada niatnya.

Dalam beribadah meniscayakan keikhlasan. Keikhlasan menjadi intisari atau cerminan kualitas keimanan seorang hamba dalam menjalankan ibadah untuk meraih ridha-Nya.

Sebaliknya, jika beribadah namun harapannya mendapat pujian dari sesama manusia, maka sebenarnya tidak dikategorikan ikhlas, selama menginginkan pamrih, balasan selain dari Allah Swt.

Ikhtiar seorang hamba untuk beribadah ikhlas semata mengharap ridha Allah tersebut, bukanlah perkara mudah. Sesungguhnya, seseorang memiliki sifat suka jika dipuji dan marah kalau dicela.

Apalagi dorongan nafsu yang mengaburkan niat seseorang menjadi menyimpang sehingga tidak ikhlas melainkan mengharapkan pujian, lalu mengabaikan Allah Swt.

Dorongan nafsu dan tabiat manusia senang kalau dipuji menjadi tantangan terberat dalam beribadah. Dalam bulan Ramadan ini, terbuka berbagai “pintu-pintu Tuhan” untuk melakukan kebaikan.

Di antaranya, shalat, puasa, zakat, sedekah hingga membagi tuntangan hari raya (THR). Serangkaian ibadah tersebut meniscayakan ikhlas, tetapi kadangkala tanpa menyadari seseorang mengungkapkan kebaikannya dihadapan banyak orang, misalkan menceritakan bahwa dirinya telah khatamkan al-Qur’an sekian kali dalam bulan Ramadan.

Karenanya Allah Swt menegaskan dalam Surah Al-An’am:162 terkait ikhlas: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Ayat tersebut juga menjadi bagian bacaan shalat melaui doa iftitah yang mencerminkan perilaku seorang hamba untuk ikhlas beramal semata karena Allah Swt.

Ibn Qayyim memberi perumpamaan orang yang tidak ikhlas seumpama seseorang berjalan jauh lalu membawa kerikil, demikian memberatkannya tapi tidak ada nilainya, sia-sia.

Kadang tanpa disadari, seringkali kita berbuat suatu kebaikan lalu terdorong untuk menceritakan kepada orang lain dengan mengharapkan pujian, fatalnya saat dipuji kemudian larut sehingga muncul keangkuhan.

Ikhlas itu  berpijak pada niat mengharap ridha Allah Swt semata dengan memenurnikannya dari pujian manusia yang sifatnya merusak nilai pahala amalan yang dilakukan secara ikhlas. Beramal dengan ikhlas ganjarannya adalah sorga !

Firdaus Muhammad adalah Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi  UIN Alauddin Makassar

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.